Sang Hyang Segara Rekayasa



Puja-pujiku hanya bagiNya
Pencipta semesta seisinya
Hormatku buat ki pujangga
Yang memahamuliakanNya


ASTINA.—Para Kurawa pada bicara bersama Jendral Bala-dewa, Presiden Mandura, membahas masalah petaka negara.

DURYUDANA: Dewan sidang yang mulia! Luapan samudra, musim hujan yang luarbiasa, hujanbadai, banjirbah, seolah mau menenggelamkan dunia, menjadi malabencana global. Apa hal ini juga menimpa negara Mandura?

BALADEWA: Iyo—sama! Malah beberapa daerah sudah lenyap dilahap luap samudra.

KARNA: Pun jua Propinsi Awangga! Nelayan jadi korban! Wisata bahari mati! Rusakporak di sana-sini.

DURYUDANA: Apa sebenarnya penyebab malabencana ini? Dan bagaimana cara mengatasinya?

SAKUNI: Maaf, Pak! Mungkin Prof Durna punya sumbangsih pemikiran otentik serta strategi pemecahan masalah yang jitu.

DURYUDANA: Benar, Prof Dur—silakan naik ke mimbar.

DURNA: Nah, hahaha… trims! Pakarakbar tak perlu berkoar di atas mimbar! Tut wuri handayani! Nah, hahaha… ketahuilah dewan sidang yang mulia—tak cuma Astina, Mandura, Awangga yang tertimpa malapetaka, malah sampai Bangladesh. Lebih mengerikan! Nah, secara teoritis—ada akibat, ada sebab! Semua mala hanyalah akibat dari suatu sebab. Samudra meluap, hujanbadai, banjirbah, malah gunung es di kedua kutub bumi pun mencair—itu semua kerna perbuatan manusia yang tak pernah peduli pada kelestarian lingkungan hidup. Oknum tak bertanggungjawab!

BALADEWA: Krrk-cuah! Oknum keparat! Siapa, Prof?

DURNA: Menurut penelitian, itu semua akibat perbuatan si Antasena yang sedang bereksperimen di dasar samudra.

BALADEWA: Krrk-cuah! Laknat si Antasena!

KARNA: Apa maunya ia?

DURNA: Kerna ia Kasal Amarta, pasti punya tujuan politis. Demi kejayaan bangsa Pandawa! Ia mau menjadi penguasa samudra dan mengaku bergelar Sang Hyang Segara Rekayasa.

BALADEWA: Apa? Sang Hyang? Krrk-cuah! Edan! Si Antasena gila! Apa gelar itu ada dalam kitab, Prof?

DURNA: Ah, tiada! Semua pustaka telah dibaca. Pustaka Universitas Sokalima sampai Universitas Atasangin sudah saya teliti. Baik dalam kitab kuno model Tantu Panggelaran, Kitab Manik Maya, Kitab Paramayoga, Kitab Kanda, Kitab Sudamala, Kitab Nawaruci, Kitab Gatutkacasraya, Mahabarata, Ramayana, maupun kitab lain—tak ada gelar Sang Hyang Segara Reka-yasa. Sang Hyang gadungan! Palsu!

DURYUDANA: Jika begitu, gagalkan eksperimen si Antasena, tangkap dan adili!

SAKUNI: Jika Amarta melindungi?

DURYUDANA: Serbu!

“Setuju! Setuju! Setuju!” + “Ziplah!” + “B-beres!” + “OK!” + “Hidup Kurawa!” + “Hidup! Hidup! Hidup!…”


BALADEWA: Krrk-cuah! Tepat!

DURYUDANA: Baiklah, Jendral Baladewa—pimpinlah pasu-kan multinasional. Dan Letjen Karna harap memimpin pasukan Parakomando Astina.

BALADEWA: Siap!

KARNA: Siap!

“Pasukan Parakomando Operasi Samudra—siap gerak! Lapor: Dursasana, Dursala, Dursata, Durmuka, Durkarna, Duradara, Durwigata, Durmagati, Kartamarma, Kartipeya, Citragada, Citramarma, Citrakandala, Citrayuda, Citraksa, Citraksi, Adityaketu, Bimabahu, Dirgabahu, Dirgalacana, Dirgarama, Dreda-rata, Drepasastra, Drestahasta, Drepayuda Drepawarman,—siap bergerak!”

“Laksanakan!”
“Siap!”


Pertempuran samudra
Siapsergap Antasena

DASAR SAMUDRA.—Zona teritorial Amarta.

(BLAARR!)
“Krrk-cuah! Ranjo laknat!”
“Awas kapal slam!”
(BLAARR!)


AANTASENA: Hmh, Kurawa—jangan harap bisa mendobrak-porak hankam Amarta. Submarine Antaboga karyarekacipta Prof Dr Antaboga teramat handal. Aku Sang Hyang Segara Rekayasa lagi bereksperimentasi dalam Sea-Lab Oceanoculture demi masa depan bangsa. Siapa pun tak boleh masuk ke dalam Sea-Lab ini.

Gara-gara
Bumi gapai
Laut badai

TUMARITIS.—Dalam dukamala dunia, Panakawan pada berwawancanda.

“Excuse me, I’m Petruk Swayze. Dear Readres—how are you today? Fine? OK, so am I. Hehehe… ceritanya hujan nih: basah, bocor, becek! Ehm… Yun, Ren, Sis—ngapain? Ngeceng melulu! Kapan mejeng lagi di Matahari? Gantian! Ngampus kek, hehehe… gemana tuh Wayang Kampus ? Hura-hura aje! Bilangnya: aktivis! Ngilmiyah kek, hehehe… gak nyeni ah!”
“Omong ame siape, Truk?”
“To my fans, of course!”
“Huh, sok top! Sok pop!”
“Hehehe… emang kok! Eh, Gareng mana? Bang, si Gareng Mbeling udah dibikin belon? Cepet buru dimainin! Kan mau show—jangan cuma Bagong yang in action. Bosen!”
“Sentimen lu, Truk!”
“Harus! Nah, itu Gareng! Sini, Reng! Where’re ye from?”
“Show-biz!” + “Show off!”
“Zow, ngerti? Gak kaya lu: ngeceng melulu. Gak laku-laku!”
“Enak aje! Di sono gue observasi: meneliti perilaku budaya konsumerisme demi antisipasi bisnis masadepan. Kan asik!”
“O dasar Bagong Urban!”
“Udah! Pak Jun datang!”


ARJUNA: Kang Semar—Laksamana Antasena mesti dicari. Lama dia tak melapor ke Amarta.

SEMAR: Mari, Pak.

Arjuna dan Panakawan
Menembus jalan hutan


“E-e-babo-babo… Gog—ada p-penjelajah r-rimba Pringga-dingatala. S-siapa, Gog?
“Sst! Jendral Arjuna!”
“E-e-babo-babo… s-serbu!”—(Clap!)—“C-ciaat!”—(Dez! Zplak! Deb! Bugh!)—“Hugk-khoeekh uhuooo… m-mati a-aku, Gog!”—(Bruk!)
“Cakil mati, Lung!”
“Biarin saja, Gog!”
“Grr-babo-babo, keparat! Hadapi aku Dityakala Badai-segara! Heh, konco-konco: Pragalba, Rambut Geni, Padas Gempal, Jurangrawah, Buta Ijo, Buta Terong, Buta Endog—ayo keroyok si perwira keparat itu!”
“C’mon!” + “OK!” + “Move!”
“Satu, dua, tiga! Ciat! Ciat! Ciiaatt!”—(Blaarr!)—“Aduh! Ahk! Khk! Klk!”—(Blug! Blug! Blug!)
“Zuilah! Mampuz zemua!” + “Benal! Ayo lali, Mas!”
(Jleg!)—“Brenti!”
“Ziapa lu? O yez! Kenalin—gue Mr George! Yez, Mr Joz!”
“Busyet! Keren juga nih Buto—pake nama beken segala! Elu kalah, Reng.”
“Em… lu siape, Pelo?”
“Mistel Gabliel! Ayo pelgi ah! Usah ngulusin olang tak kaluan!”—(Bugh! Bugh!)—“Adow! Main pelmak lagi! Blantem-blantem, tapi spoltif! Ngawul’u!”
(Dor-dor!)—“Beres, Gong!”


Buta-buta mala
Pada sirnafana
Gentur tutur
Bangun catur


SEA-LAB OCEANOCULTURE.—Laksamana Antasena yang bergelar Sang Hyang Segara Rekayasa menggegerkan dunia berkat penemuan Sistem Hankam Dasar Samudra, serta Oceanomigration demi mengatasi masalah kepadatan pen-duduk masadepan dengan merekacipta Gedung Pencakar Laut. Eksperimentasi fantastik semodel itu menyebabkan pro dan kontra di seluruh penjuru dunia. Tidaklah gaib-ajaib jika Girinata, Presiden Sorgaloka, turun tangan.

GIRINATA: O Jagat Dewa Batara! Antasena—hentikan eksperimen itu! Usah mendahului karsa! Dan lepaskan gelar Sang Hyang yang kau sandang.

ANTASENA: Maaf, tidak bisa! Eksperimen bukan sekedar sok cendekia. Gelar bukan gagah-gagahan! Ini demi kehidupan.

GIRINATA: Babo-khhk-cuah! Kurang ajar! Apa kau tak takut pada pasukan multisemesta dari Jagat Triloka?

ANTASENA: Maaf, Tuan! Tidak!

GIRINATA: Keparat! Tangkap!

“Siap! Indra, Bayu, Brahma, Wisnu, Surya, Sambu, Kama-jaya, Yamadipati, Temboro, Trembuku—sergap si Antasena!”
“Siap! Siap! Siap! Siap!”
(BLAARR!)
“O Jagat Dewa Batara!” + “Mundur! Bayu Mundur!”
“Bergenzong-pada-ndoyong, si Antasena tak tertaklukkan! Benar-benar adidaya ia! Celaka! Ini urusan Ki Semar, Tuan!”
“Tuh Ki Semar datang!”


SEMAR: Ada apa, Tuan? Bakutempur sama Pak Antasena rupanya. Maaf, Maha Sang Hyang! Demi pranata alam—Sang Hyang Segara Rekayasa sebenarnya bergerak atas kuasa Sang Hyang Wenang. Nah, Pak Antasena—tugas telah sampai! Wenang mencipta, Wenang merekayasa, Wenang memelihara. Bukankah begitu, Maha Sang Hyang?

“Soal LBH—romo pakarnya!”
“LBH itu apaan sih, Truk?”
“LBH: Lakon Bangsa Hyang.”


SANG HYANG WENANG: Ki Semar benar! Manggayuh karahar-janing praja, memayu-hayuning bawana.

Petik bunga guna
Intisari merdeka


Semarang, 28 Mei 1991 Ki Harsono Siswocarito

Selengkapnya....

Balada Utopia Dr Sucitra


Dene utamaning nata
Berbudi bawa laksana
Dene utamaning praja
Adilmakmur paramarta


ATASANGIN.—Bersama Dekan FISIP Prof Dr Kumbayana, Dr Sucitra menghadap Rektor Universitas Atasangin Prof Dr Baratwaja.

BARATWAJA: Sungguh terkejut saya membaca surat permohonan sodara untuk mengundurkan diri sebagai akademisi. Kenapa, Dr Sucitra?

SUCITRA: Saya mau alih profesi.

BARATWAJA: Profesi apa?

SUCITRA: Politisi!

KUMBAYANA: Jadi politikus? Nah, hahaha… hebat! Utopia luar biasa! Tapi, apa sudah anda pikirkan betul? Memang anda teoretisi ilmu sosial politik, tapi bukan praktisi. Bisa apa?

SUCITRA: Justru itu! Saya mau berpolitik praktis. Dalam dunia akademisi tak ada peluang untuk jadi politisi. Saya butuh kebebasan berpolitik, bukan cuma kebebasan mimbar!

BARATWAJA: Apa ada?

SUCITRA: Ada di luar negeri! Saya mau beremigrasi ke negara pengusung demokrasi.

BARATWAJA: Atasangin juga negara demokrasi. Mau ke mana lagi sodara hendak mencari demokrasi?

SUCITRA: Hmh! Demokrasi Atasangin semu-feodal! Saya mau ke Pancala. Di sana lagi suksesi. Presiden Pancala Jendral Gandabayu hendak melakukan suksesi demokratis.

KUMBAYANA: Apa itu?

SUCITRA: Siapapun bisa jadi presiden Pancala, tentu saja jika punya power mampu menandingi Jendral Gandamana.

KUMBAYANA: Nah, hahaha… power apa andalan anda? Power Wagon, Power Metal, Power Slave? Nah, hahaha… apa coba? Teori? Gombal! Teori handal macam apapun hanya ada dalam wacana, dan semua wacana terpisah dari realita. Lebih radikal, tiada makna di luar wacana! Nah, Citra gak usah mimpi! Realistislah! Mencerdaskan kehidupan bangsa lebih mulia daripada utopia. Nah, hahaha.…

SUCITRA: Maaf, Prof Yan! Saya segan dan enggan berdebat dengan anda. Acuan teori kita beda. Saya sependapat dengan Michel Foucault! Wacana dan kuasa tidak terpisah dari realita. Ini perlu bukti! Prof Dr Baratwaja—saya mohon pamit!

BARATWAJA: Baik, selamat jalan!

SUCITRA: Permisi, Prof Yan.

KUMBAYANA: Mari-mari, semoga sukses! Jika berhasil, nanti kuikuti jejakmu. Nah, hahaha… good bye!

SUCITRA: G’bye!

Segera Sucitra
Menuju Pancala
Sayembara Pancala
Melawan Gandamana

PANCALA.—Presiden Gandabayu memanggil Menhankam Jendral Gandamana demi membahas perihal suksesi.

GANDABAYU: Bagaimana, Jendral Gandamana? Masih belum ada yang mampu menandingimu?

GANDAMANA: Belum, Pak! Tapi ini ada peserta baru. Dr Sucitra dari Atasangin, pakar besar ilmu sosial politik, dan … bujangan! Huahaha… silakan maju, Dr Sucitra.

SUCITRA: Terimakasih!

GANDABAYU: Sudah tahu aturan sayembara ini? Air-war, duel udara! Jika mampu menandingi kepiawaian tempur-udara Jendral Gandamana, sodara berhak diangkat jadi presiden Pancala dan berhak memperistri putriku Dewi Gandawati.

SUCITRA: Hah?

GANDAMANA: Huahahaha… usah kaget! Masa mau adutinju? Kuno! Mari adulaga di angkasa! Kau boleh pilih pesawat tempur yang kau suka.

SUCITRA: Mati aku! Baiklah, saya coba.

GANDAMANA: Silakan!

Tandang gonera
Sang Gandamana
Seluruh warga
Menonton laga

PALAGAN.—Jendral Gandamana melangkah gagah ke arah pesawat tempur supermewah. Dr Sucitra ragu! Sayembara ini tak terkira olehnya. Benaknya cuma terisi teori politik, tak kenal strategi tempur. Mau mundur, malu! Daripada mundur, lebih baik tempur.

“Ayo, Sucitra!”
“Siap!” Blaas!

Dua pesawat
Pesat-kebat

“Hidup, Jendral Ganda!” “Hidup! Hidup!” (Prok! Prok! Prok! Suit-suit!) “Wah, nekad!” (Teet!) “Trompetnya, Mas—budeg nih!” (Toeet!) “Diancuk!” (Buk!) “Adoow!” (Bruk!) “Rasain lo!”
“Sst! Brisik!”
“Caaang-kacaaang! Kacang, Om?” “Gak!” “Rokok, tisu, Getsbi!” “Gak!” (Jdak!) “Aduh, asu! Gak beli, ninju!” “Hahaha…!”
(Duut!) “Kentut lagi lo!” (Hfuh!) “Dasar!”
“Diem! Ribut mulu! Eh, taruhan yo?”
“Oke, gue jagoin Om Ganda!” (Cplek!) “Siplah! Gue, Om Goen!” “Lho!” “Heheheh…!”
(Zoss!) “Luput” (Blar!)
(Plas!) “Kena!” (Glar!)

Pesawat tempur
Sucitra hancur

“Mampus ya dia?”
“Entah la ya!”

Gandamana jaya
Jago sayembara
Ganti peristiwa
Tanda gara-gara

KARANG KABOLOTAN.—Dingin angin sepoi di tebing bukit. Pucuk gunung tertutup kabut. Dari sebuah gubuk ilalang mengumandang dendangria. Tembang pelipur bimbang! Pana-kawan pada bercandaria.

Wayang mana, wayang mana?
Wayang eta nu pang jagona
Hayang mana, hayang mana?
Hayang eta nu pang gedena

“Ehm, brr… dingin! Berburu ame Pak Pandu, sial gue! Ia dapetnya gede terus; gue, kecil mulu.”
“Iye aje, Truk! Dia pake bedil, lo pake ketapel. Beda!”
“Ahihi… tradisionil!”
“Mana mampu menyamai Pak Pandu: perangkat modern! Alat lebih dari bakat. Biar bakat hebat, tanpa alat temtu lambat. Biasa serba santai, ya nerimo. Budaya statis mau melawan budaya dinamis. Mana bisa?”
“Iya-iya! Romo mana?”
“Sama Pak Pandu!”
“Ke sana, yo?”

PANDU: Kurasa liburku sudah cukup, Ki Semar. Marilah ke Astina.

SEMAR: Mari, Pak!—Ayo, Le!

“Asiiik!” “Sip, Mo!”

Pandu berjalan
Merambah hutan
Halang terjang
Perang kembang

ALASAMAR.—Pandu Dewanata berperang. Rintang-halang ia terjang. Para penyerang lintangpukang. Tungganglanggang!

“Bah, keparat! H-hadapi a-aku Gendir Penjalin!”
“O, Cakil—hajar, Gong!”
(Pletak!) “Aduh!” (Cpret!) “Rasain!” (Bletak!) “Wadow! M-mati a-k-u….” (Bluk!)
“Hehe… segitu doang! Lagi nih!” (Cpret! Thaak!) “Waaw… ketapel lo kena gue nih,
Gong! Ngawur lo!” “Hehe…!”
“Babo-babo! Pragalba, Rambutgeni, Padasgempal, Jurang-rawah, Buta Terong, Galiuk—serbu!" (Jlap! Jlap! Jlap! Jlap!)
(Plas!) “Makan tu bom!”
(BLAARR!)

Para Buta
Pada fana
Tampaklah orang
Melayang-layang

“Eh, lihat, Truk! Tuh!”
“Hah? Parasut jatuh!”

Panakawan
Berlarian

PANDU: Anda siapa?

SUCITRA: Saya Sucitra. Haduh… untung saya selamat! O ya, anda siapa?

PANDU: Saya Pandu dan ini Ki Semar. Kenapa anda bisa jatuh di sini?

SUCITRA: Yeah… saya kalah sayembara. Sialdangkal! Saya tak mampu menandingi kepiawaian air-war Jendral Gandamana dari Pancala. Ia luarbiasa!

PANDU: O, memang! Apalagi jika ia memakai jet tempur Wungkalbener, ia tak tertandingi. Itulah kekuatan Pancala! Namun jika anda mau, saya bersedia membantu.

SUCITRA: Hah? Tapi—?

SEMAR: Em, hahahah… tak usah samar, Pak Citra! Jendral Pandu Dewanata ini Presiden Astina. Beliau ahli polemologi, pakarakbar budaya tempur.

SUCITRA: O, baiklah!

PANDU: Tandingan jet tempur Wungkalbener itu cuma jet tempur Narantaka. Ini logika perwira. Namun keperwiraan perlu disertai kecendekiaan. Tempur bukan cuma adukeras, namun juga aducerdas. Modernitas Pancala cuma bisa diatasi dengan posmodernitas. Ingat Powershift Toffler, dan War and Anti-War bisa diacu.

SUCITRA: Wah, kawiryan tidak terlepas dari kawinasisan. Terlalu lelap saya tertidur di menaragading politik. Terlena dari realita, hidup dalam utopia. Adalah sebuah anugerah, saya bisa bersua Jendral Pandu Dewanata.

PANDU: Bawa jet Narantaka. Semoga sukses! Berangkatlah!

SUCITRA: Terimakasih!

Pesat Narantaka
Melesat angkasa
Kali ini Sucitra
Digdaya di udara

PANCALA.—Dr Sucitra menang! Seusai sayembara ia di-anugerahi pangkat Jendral, menikah dengan Dewi Gandawati, dan dilantik menjadi presiden Pancala. Kini ia bernama Jendral Drupada. Dan dalam pemerintahannya, ia menyetujui Jendral Gandamana diangkat menjadi Wapres.

Petik kembang sinebaran
Tutup lawang singgotaka


Semarang, 4 Pebruari 1994 Ki Harsono Siswocarito

Selengkapnya....

Prof Dr Bima Tanayatatwa

Anjrah kang puspita rum
Kasliring samirana mrih
Sekar mekar manekawarna
Maweh bebungahing driya


ASTINA.—Rektor Universitas Negeri Sokalima Prof Dr Durna, Dirjen Dikti Prof Dr Krepa, dan Mendikbud Prof Dr Bisma menghadap President Duryudana.

KREPA: The Yang Mulia Bapak Presiden Duryudana, Bapak Mendikbud Prof Dr Bisma yang terhormat, Bapak Rektor UNS Prof Dr Durna yang tercinta, serta para tokoh Kurawa yang kusukai—selamat pagi! Dalam kesempatan ini kami sengaja menghadap Bapak Presiden demi melaporkan adanya Perguruan Tinggi Swasta Mandiri, Universitas Bayupitu, di Kurusetra, yang direktori oleh Prof Dr Bima Tanayatatwa. PTSM itu menjadi rival berat PTN Astina. Begitu kan, Prof?

DURNA: Benar! Bahkan lebih dari itu, PTSM jadi ancaman bagi stabilitas nasional Astina kerna telah menjadikan kampus sebagai ajang bisnis dan politik praktis.

BISMA: Hmh! Tak etis kampus jadi ajang bisnis. Bisa pelik jika kampus jadi ajang politik.

DURYUDANA: Sebahaya itukah, Prof Dur?

SAKUNI: Prof Dur! Prof Dur! Melamun! Gaji naik masih murungrenung, getirpikir, suntrutkusut melulu. Hehehe… ada masalah pribadi ya, Prof?

DURNA: Ah, Pak Kun bisa aja. Durna sudah bersihdiri dari kepentingan pribadi atau famili demi negeri. Bukan demi gaji! Hidup Durna diabdibaktikan demi kemajuan pendidikan. Hasilnya tak sia-sia—Sokalima mampu mencetak kopral sampai jendral, ketua RT sampai direktur PT, baik pejabat, birokrat, teknokrat, maupun konglomerat. Namun, ya ampun! Haruskah kini PTN elite Astina hancur mundur? No way ! Lebih baik PTSM itu ditutup! Berbahaya!

KARNA: Maaf, Pak! Pendidikan adalah hak azasi manusia. Lagi pula, Universitas Bayupitu berdiri di wilayah Amarta.

BALADEWA: Heh, Karno! Karno! Usah lancang! Kau jadi gubernur berkat memo Bapak Pres Dur! Jadi pejabat berkat memperalat istri! Naik pangkat berkat katebelece mertua! Mau bertingkah! Krrk-cuah! Tak tahu diri!

SAKUNI: Hehehe… Astina tidak mengakui kedaulatan Amarta. Kepentingan Kurawa di atas segalanya! Pak Karna harap mafhum.

DURNA: Nah, hahaha… tepat! Lebih jauh, dampak PTSM telah melahirkan jenis profesor slebor, lektor door to door, asisten impoten, ilmuwan asongan, akibat pahitpailit sepi duit jauh doku. Lantaran tiada lagi bonus panitia, uang jaga, dan duit koreksi ujian negara; tiada lagi duit-oli akreditasi! Nah, hahaha… gitu kan, Prof Krepa?

KREPA: Ya! Biar credit point penuh, credit coin selalu butuh.

DURYUDANA: Baik! Tutup Bayupitu! Bubarkan! Bila perlu hancurkan!

DURNA: Nah, hahaha… acc!

DURYUDANA: Kapten Karto, kontek Angkatan Perang Astina!

KARTAMARMA: Siap laksanakan!

“Divisi Banjarjumut, Divisi Banyutunalang, Divisi Bana-keling, Divisi Ujunglautan, Divisi Awangga, Divisi Mandraka, Divisi Mandura—siap bergerak!”
“Laksanakan!”


Siaptegap sang Dursasana
Panglima pasukan Astina!
Kurawa menyerbu kampus
Mahasiswa bikin mampus

UNIVERSITAS BAYUPITU, AMARTA.—Rektor Prof Dr Bima Tanayatatwa mengundang Prof Bayu Kanetra pakar pithe-coidology, Prof Bayu Maningrat pakar deusoidology, Prof Bayu Pulasia pakar gigantoidology, Prof Bayu Estibanda pakar monsteroidology, Prof Bayu Maruta pakar austroculture, Prof Bayu Baruna pakar oceanoculture, dan Prof Bayu Maenaka pakar neoculture.

BIMA: Para Profesor yang terhormat! Apakah saudara-saudara menyesalkan tindakan pasukan Kurawa?

KANETRA: Tentu! Tapi anggap saja itu dagelan. Toh kita mampu mempertahankan diri.

PULASIA: Huahaha… benar! Serbuan itu tiada arti bagi biomacrobot karyarekayasaku.

ESTIBANDA: Pun jua monsterobot masadepan mampu memporakporandakan itu pasukan.

MANINGRAT: Dasar Kurawa! Wayang picisan begitu rupa berani jual gaya. Berlaga! Khhkcuah!

MARUTA: Perlu dikasih pelajaran, Prof! Biar nyaho!

BARUNA: Betul! Emangnya ilmu pengetahuan cuma ada di Universitas Negeri Sokalima, teknologi cuma ada di Universitas Talkanda? Sombong!

BIMA: Baiklah! Tindakan militer Astina perlu dituntut. Siapkan pasukan tempur biomacrobot dan monsterobot buat menyerbu Astina.

PULASIA: Baik!

ESTIBANDA: OK!

“Divisi Gigantoid, Divisi Monsteroid, serta Divisi Pithe-coid—siap berangkat!”
“Lakukan!”


Serdadu buatan bergerak
Penuh kekuatan menembak
Huru-hara
Gara-gara

TUMARITIS, DESA DADAPAN.—Panakawan pada bercanda.

“Helo, Frens—ahihi… ogut Bagong! Okap kokab? Sip! Rin, Nur—gimokan yudisium? Hebring-hebring so pasti! Ahihi… mane sih ba’ang Petruk? Sokin dong!”
“Hehe… mudik ngurban ya, Gong? Pake mrokem segala! Neko-neko! Biasa manggil kang, malah njangkar, kini ba’ang.”
“Lho kok nepsong?”
“Bukan sewot! Pake bahasa Indonesia yang baik dan benar. Jika mau berbahasa Inggris pun pake yang baik dan benar.”
“Prex! Sok ahli! Sok linguis! Emangnya ogut orang kur-susan. Tau gue gak katam es-de pake diguruin. Cuih! Biar salah asal indah. Bikin kesalsebal aje!”
“Hehehe… Gong, usah melotot, ntar copot tuh mata.”
“Biarin!”
“Lu tau, Gong? Sugih teknik miskin kritik itu bukan seni yang baik. Tulisan kaya gaya tanpa idea bukanlah sastra.”
(Duuut!)
“Phuah! Kentut lu!”


Yu yus tu bi mai parti dol
Bat now yu sey de parti’s oper

“Gareng lagi sok rock, gak faseh aje pake ngoceh.”
“Huaha… Yeah! K’yu.”
“Ude—de bokaps kams!”

SEMAR: Mari melacak jejak Pak Bima. Kemana perginya dia, Pak Jun?

ARJUNA: Entah, Pak Semar.

Panakawan dan Arjuna
Merambah jalan rimba
Raksasabala kagiri-giri
Malasatru sang paraguru

RIMBA PRINGGACALA.—Di tengah hutan Jendral Arjuna dan Panakawan menghadapi pencegatan dan perampokan.

“L-liat, Lung! A-ada m-mangsa, ayo dibom, Gog!”
“Ko’e! Eh, sst! Awas itu
gajah Pandawa.”
(Jleg!)—“Brenti!”
“Hmh, siapa kau?”
“Heh, m-masa
k-kau tak k-kenal tokoh se-s-sebeken Cakil? J-jangan bacut!—(Dor!)—“Aakkhh…
mokat go’ut, Gooog!”
“Hah, Cakil ko’it! Bodat! Lelaki cantik brani ngaksi.
Brokis! Gua caw lu—hiiaatt!”—(Gusrak!) + (Jdak!)—“Aduh! Benjut gua… aduuhh.” +
“Awas Bragalba!”—(Dor!)
“Nuuh, Mrangalma ngo’it! Nyangil ngonyor! Ngawat
nih—la’i, Ngoog!”—(Pletak!)—“Anuh! Ngo’it angu!”—(Buzrak!)
“Ahihi… Truk,
habis tuh Buta GPK.”
“Hehehe… culun sih!”
Buta-buta ribut
Semua pada maut
Dalam rimba Arjuna
Bertemu Prof Durna

DURNA: Nah, hahaha… kebetulan kita bersua, Jendral Juna.

ARJUNA: Lho! Prof Dur mau ke—?

DURNA: Gawat, Pak Jun! Saya pergi dari Sokalima kerna ada kudeta di Astina. Pres Dur digusur! Kurawa pada kabur!

ARJUNA: Siapa pelakunya?

DURNA: Tentara buatan—serdadu biomacrobot dan monsterobot dari Divisi… ah, apa namanya? Pokoknya itu semua produk Universitas Bayupitu. Tolonglah, Jendral Juna—selamatkan almamater.

ARJUNA: Baik! Pak Semar—mari ke Astina.

SEMAR: Mari, Pak! Ayo, le!

“Oke!” + “Yo’e!” + “Asoy!”

Buru-buru Arjuna
Menuju ke Astina
Geger Bayupitu
Geser Balakuru

ASTINA.— Arjuna menghadap Prof Dr Bima Tanayatatwa.

ARJUNA: Maaf, Prof Bima—tindakan ini terlalu berani dan melancangi kebijakan Pandawa. Atas nama bangsa Pandawa, kumohon pemerintahan Kurawa dipulihkan.

BIMA: Hmh, OK! Asal Regime Kurawa tidak merongrong hak otonomi Universitas Bayupitu. Di samping itu, kamu cari dulu Jendral Bratasena yang diculik dan ditenggelamkan di tengah lautan oleh Mariner Astina.

ARJUNA: Hah? Jadi, Jendral Bratasena diculik Kurawa! Aduh, gemana, Pak Semar?

SEMAR: Em-em-em, ahahaha… usah kuatir, Jendral. Tan samar pamoring suksma anuksma, Prof Dr Bima Tanayatatwa inilah Jendral Bratasena. Dan Prof Bayu Kanetra adalah Prof emiritus Kapiwara dari Universitas Kendalisada, alias Jendral Purnawirawan Anoman.

BIMA: Benar kamu, Mar!

Dan jiwabesar Semar
Maweh obor profesor

Semarang, 31 Juli - 6 Agustus 1991 Ki Harsono Siswocarito

Selengkapnya....

Nurkala Kalimantra Geger di Suralaya

Langit kelir tabir Gusti
Tabire ya wong ngawayang
Wayang manut maring dalang
Dalange murba ing wayang
Kelire ayon sabita Gusti


MERCUKUNDA, SURALAYA.—Sang Hyang Pramesti Guru Jagatnata, ya Sang Hyang Otipati Penguasa Jagat Triloka, duduk di atas singgasana Kursi Gading Gilang Kencana, dihadap para dewa, para batara, para sang hyang, para bidadara, para hapsara seluruh warga Sorgaloka.

JAGATNATA: Kakang Panji Narada, Kang—sesungguhnya apa yang terjadi di Kahyangan ini? Magma Candradimuka ber-golak, lava menggelegak, gempa berderak, Gerbang Selama-tangkep retak, Istana rusakporak. Prahara apa ini, Kang Panji?

NARADA: Aduh, Adi Guru—ampun seribu ampun. Ini semua gargara balamala raksasa dari negeri Tunggulwesi yang dipimpin oleh Jendral Nurkala Kalimantra. Dia meminta tahta surga. Begitu Gusti Pramesti.

JAGATNATA: O jagat dewa batara! Betapa lancang ia. Kenapa tidak dicekal?

NARADA: Sudah, Adi Guru—Cingkarabala dan Balaupata berhasil membendung balamala raksasa itu dengan menutup Gerbang Selamatangkep. Dan kini mereka berada di padang Repatkepanasan. Untuk tindak-lanjut kami menunggu petunjuk Adi Guru.

JAGATNATA: Jangan dibiarkan mahluk itu menginjak-injak Kahyangan. Suruh pergi! Usir! Bila perlu basmi!

NARADA: Baik, Gusti! Permisi—Indra!

INDRA: Siap!

NARADA: Siapkan seluruh kekuatan tempur Suralaya Demi membasmi balamala Nurkala Kalimantra.

INDRA: Siap!

“Para dewa siap bertindak: Batara Brama, Batara Wisnu, Batara Surya, Batara Bayu, Batara Kamajaya, Batara Sambu, Batara Kuwera, Batara Yamadipati, Batara Aswan, Batara Aswin, Batara Bermana, Batara Bermani, Batara Bermana-kanda, Batara Citragada, Batara Citrasena, Batara Sambodana, Batara Rawiatmaja, Batara Karaba, Hyang Patuk, Hyang Tem-boro, Hyang Dewanggana, Hyang Dewasana, Hyang Dewang-kara, Hyang Sanggana, Hyang Pancadewa, Hyang Pancaweda, Hyang Dewatama,—”
“Siap! Siap! Siap! Siap!—”


Siapsiaga para dewa
Basmi mala Triloka!

Buta-buta mala
Bala pada laga

REPATKEPANASAN.—Jendral Nurkala Kalimantra menanti dalam benci, menunggu penuh nafsu.

KALIMANTRA: Grrrk-cuah-huahaha… e, e, bojleng-bojleng iblis najis pada bengis! Mana si Jagatnata? Pasti sembunyi di ketiak bidadari! Takut padaku! Huahaha… model begitu patut maharajadiraja para dewa? Turun tahta sajalah, Jagatnata! Serahkan padaku! Jika tidak, Suralaya kubuat kiamat dahsyat!

KALAMURKA: Tobat, Gusti—lihat! Gerbang Selamatangkep terbuka. Para dewa menyatakan perang!

KALIMANTRA: Grrrk-cuah! Laknatkeparat! Serbu!

“Serbu! Serbu! Serbu! Serbuuu—”
Buta maju
Menyerbu!

Berang! Garang!
Buta menyerang!

“Lu brani ame dewa?”
“Why not? Lu jago, gue jago! Lu jantan, gue jantan! Buktikan: siapa lebih jantan, siapa paling jagoan!”
“Khhk-cuah! Buta edan!”—(Clap!)—“Ciiaatt!”—(Jder!)
Serbu tinju seru!
(Bet!)—“Hih!”—(Dez! Dig! Bugh!)—“Hegkh!”—(Bruk!)
“Ayo bangun, Dewa!”
“D-du-uh… tob-ba-at….”
Sepak telak! (Brak!)—“Aakkhh!”
Tanpa kutik lagi ia mati suri.
“Brama kalah! Bayu mundur!”
“Para dewa mundur! Mundur!”
“Mundur! Mundur! Mundur!—”

NARADA: Celaka! Para dewa kalah digdaya. Wisnu!

WISNU: Yes, Sir!

NARADA: Maju!

WISNU: Siap!

“Nurkala Kalimantra! Hadapi aku Batara Wisnu!”
“Siapa? Wisnu? Ayo maju—mana jago dewa? Grrrk-cuah! Lho kok tidur? O tiarap! Ngapain, Wisnu?”
“Usah tanya mala! Rasakan rudal Cakra—mampus jiwamu!”—(Wuzz! Clap!)
(Krep!)—“Huahaha… rudal model beginian sih mana mempan!”—(Pluk! Ccss!)
“Edan! Mejen, Wisnu!”
“Aduuhh celakaaa—”
“Lari! Lari! Lari!”

Dewa tawur
Pada mabur

NARADA: Aduh, Adi Guru—celaka! Para dewa tiada daya; para hyang tiada menang. Bagaimana sekarang, Adi Guru?

JAGATNATA: Kakang Panji Narada harap segera membumi demi mencari jago dewata—lelaki langit jejaka jagat!

NARADA: Baik, Adi Guru!

Kala tiba gara-gara:
Pertanda madiacerita

KARANG KABOLOTAN.—Desa luar kota. Dusun buhun. Dukuh jauh sentuh. Terpencil! Di tengah huma, di sebuah lereng, di lengkung gunung, ada sebuah gubug beratap ilalang. Itulah rumah Ki Semar Badranaya beserta para putra Panakawan Amarta. Tanpa polusi kota, mereka bahagia. Hidup penuh candaria.

Lir ilir, lir ilir
Tandure wus sumilir

“Anu, Truk—sinilah! Bawa golok dan bambu.”
“Buat apa?
“Buat api! Biar anget: sore—kabut mulai turun. Eh, Bagong mana?”
“Entah! Cari babi, ‘kali? Cuaca begini: banyak kutu-jagung hama huma.”
“Lha, Romo—ke mana?”
“Nunggu Pak Jun!”
“Di puncak bukit?”
“Ho-oh, brrr… dingin!”
“Ni bakar jagung!”
“Ah, bosan! Suasana begini: kangen kekasih! Hehehe….”

Cinta, ia dipuja
Rindu, ia diburu

“Indah, kasihku!”
“Juilah!”

SEMAR: Gemana, Pak Jun?

ARJUNA: Parasut Tunggulnaga penyelamat rudal Ardadedali memang jatuh di bukit ini. Lihat, ini dia! Untung tidak meledak bersama pesawat tempur pengangkut Ardadedali yang di-tembak jatuh musuh.

SEMAR: O, o, o.

ARJUNA: Kini, mari ke Indraprasta. Semoga kanda Yudistira pun sudah menemukan kembali pusaka negara Kalimasada.

SEMAR: Mari, Pak.—Le, ayo kita ke kota!

“Nah!” “Beres, Mo!”
“Buru, Gong. Kota!”
Turun gunung Arjuna
Rambah belantararaya

Cekal Cakil
Si Butajail

MARGASOPANA.—Jendral Arjuna dan Panakawan menghadapi penodongan.

“Brenti! S-stop! S-siapa nama? M-mau ke mana? D-dari mana? Lima ribu! Cepat!”
“Elho! Nodong?”
“Hantam, Gong!”
(Jduh!)—“Ghk!”
“Pragalba, Rambutgeni, Galiuk, Bita Terong—maju serbu!”
“Siap!” “Beres!” “Szip!” “O’eh!”—(Jlap! Jlap! Jlap!)—“Awas!”—(Klik!)—“Hiiaa!”—(Dreder-der...!)—“Mampus lu!”
“Hehehe… Buto bego!”

Buta-buta pada sirnaperlaya
Lalu Arjuna Bersua Narada

NARADA: Eladah… bergenzong anak wong bakal doboyong! Kebetulan, Jun—ketemu. Jua Ki Semar, hahaha… apa kabar?

SEMAR: Kabar kabur! Eh, Nar—dewa kok keluyuran? Di Kahyangan kurang kerjaan, ya?

NARADA: Aduh, Ki Semar—ketahuilah…. Kahyangan geger! Suralaya diserbu balamala Nurkala Kalimantra. Dewa kalah, parah, pasrah! Bidadari pada resah! Aku diutus mencari jago dewata di bumi ini. Begitulah, Ki Semar.

SEMAR: O, o, o… siapa tadi? Nurkala Kalimantra! Pantes! Dia masih satu silsilah dengan raksasaraja Kalimataya penyerbu Suralaya yang ditumpastuntas oleh mahapakar nuklir Prof Manumayasa. Saat ini tiada jago dewata kecuali Arjuna.

NARADA: Baik, Ki Semar! Gemana, Jun?

ARJUNA: Siap!

Buru Arjuna menuju
Suralaya malasatru

Ia luka. Mati!
Tan dukahati!

REPATKEPANASAN.—Rudal Ardadedali menembak telak Nurkala Kalimantra. Meledak!

“Kalimantra mati!”
“Hidup Arjuna!”

Kalimantra meniada
Kalimasada mengada


Semarang, 12 November 1991 Ki Harsono Siswocarito

Selengkapnya....

Gitadarma Dr Mintaraga

Kembang sungsang cahya kunang
Kadia lintang gilang gumilang
Tembang hyang pangreka dalang
Dadia piwulang wong ngawayang


MERCUKUNDA, SURALAYA.—Maharaja Tribuwana Sang Hyang Otipati Pramesti Guru Jagatgirinata ya Sang Hyang Manikmaya penguasa jagat pramudita duduk di atas tahta Dampar Kencana beralas permadani sutra berenda permata dihadap para dewa pemuka triloka.

GIRINATA: Kakang Panji Kanekaputra, kenapa petaka triloka belum jua reda? Malah terambah musibah. Batara pada susah, batari pada sedih; luka hapsara parah, duka hapsari perih. Ini mesti dipandegani, Kang Narada.

NARADA: Eladalah, Adi Guru—gawat! Cuaca seram-kelam, Candradimuka timbul tenggelam, para dewa tiada tentram, Tribuwana jadi terancam itu kerna balabuta utusan Jendral Niwatakawaca ditolak melamar Supraba. Mereka tak sudi kembali ke negeri Manimantaka jika tidak memboyong sang dewi. Begitu kan, Indra?

INDRA: Benar! Supraba menampik kasih menolak cinta Niwatakawaca. Aku sendiri tak sudi bermenantu dia. Khhkcuh! Mana bisa Buta bermertua Dewa? Durhaka!

GIRINATA: O jagat dewa batara! Dasar balabuta tak kenal etika. Kurangajar benar ia. Jika tak bisa diajar, hajar! Jika tak mau mundur, gusur! Jika malah memaksa, siksa! Usir mereka dari Suralaya.

NARADA: Baik, Gusti!—Bayu! Siapkan tentara triloka. Basmi balabuta Niwatakawaca!

BAYU: Siap!

“Batara Brama, Batara Surya, Batara Wisnu, Batara Bayu, Batara Sambu, Batara Kamajaya, Batara Yamadipati, Batara Kuwera, Batara Karaba, Batara Bermana, Batara Bermani, Batara Aswan, Batara Aswin, Batara Citragada, Batara Citrasena, Batara Sambodana, Batara Rawiatmaja, Batara Bermanakanda, Hyang Dewatama, Hyang Dewanggana, Hyang Dewasana, Hyang Dewangkara, Hyang Pancadewa, Hyang Pancaweda, Hyang Patuk, Hyang Temboro,—siap gerak!”

“Siap! Siap! Siap!—”

Bala Tribuwana
Pada siapsiaga

Bala buta
Pada laga

GERBANG SELAMATANGKEP.—Balabuta siap adulaga demi memaksa para dewa menyerahkan Supraba. Tatalaga Jendral Krudaksa, Panglima Manimantaka, tampak megadigdaya. Di sisi kiri berdiri Kolonel Duskerta; di sebelah kanan, Kapten Wirakta; dan di belakang, Letnan Kalawaktra.

KRUDAKSA: Krrkzuh! Dewa-dewa! Menolak cinta Gusti Niwatakawaca berarti meminta petaka. Jika Supraba tidak diserahkan, Kahyangan Solendrabawana akan kubuat kiamat! Bahkan Suralaya akan kurusakporak, leburmumur, dan sirna-binasa. Krrkzuh!

DUSKERTA: Betul! Usah sok dewa! Buta boleh berbini bidadari. Buat perbaikan keturunan! Biar buta tengik, bini cantik; biar Buta bau, bini ayu; biar Buta, bini Supraba. Kan asik! Hehehe….

WIRAKTA: Iya! Supraba emang moy. Dasar bidadari—cantik tak tersaingi, megajelita tiada cela! Oh, Supradin, eh, Suprana, haah! Salah mulu—Supra apa?

KALAWAKTRA: Walakadalah, Gusti! Lihat! Gapura terbuka! Para dewa angkat senjata!

KRUDAKSA: Keparat! Serbu!

“Serbu! Serbu! Serbu!—”

Serbu buta
Satru dewa

Berangtendang!
Serangterjang!

“Ayo maju, Dewa!”
“Brani ame Brama?”
“Brama? O, ini jago Deksinapati: Dewa api kok kakubeku? Ayo maju! Heaah!”—(Clap!)
Serbutinju (Bugh!) sepakporak (Blak!)—“Rasain dewa—heaah!”—(Blar!) tamparmemar! “Tobaatt!”

Tatu terhitung!
Luka terbilang!

“Mana jago dewa?”
“Bayu: ayo maju!”
Adutinju seru (Jduk!) serta sepakgalak telak (Jdak!)—‘Hgkh! Hoekh ooo hfuh! Buta gila! Membokong! Aduh… ooo! Tobaat!”—(Bruk!)
“Celaka, Surya!” + “Wisnu, mundur!”

Dewa tempur
Pada mundur

NARADA: Celaka, Adi Guru! Balabuta gagahmegadigdaya mahasakti mandraguna! Para dewa tak berdaya. Gemana ini?

GIRINATA: Tenang, Kang Panji! Indra, cari jago dewata. Pergilah ke Indrakila—temui Prof Mintaraga.

Indra: Baik, Gusti!

Batara Indra
Ke Indrakila

Pada madiacerita
Ketika gara-gara

KARANG KADEMPEL.—Kampung di punggung gunung ber-payung lembayung. Cuaca Cerahmerah! Kubah bukit Indrakila tampak indahmegah! Terlantun senandung kidung dari dalam gubuk ijuk. Panakawan pada berwawancanda.

Gandasari buah ati
Pujaan urang sadaya
Buku pinuh kupapaes
Alus jadi patamanan

“Ahihi… Asmarandana Sunda! Oke jugalah. Ehm, nunggu bos lagi konsentrasi, kontemplasi, en meditasi—gini nih: aneh! Eh, kemaren digoda cewek Suralaya, ia cuek aja! Bidadari cantik tak ia lirik! Malah gua yang manatahan. Ahihi….”
“Gitu itu, Gong—prihatin: taparekacipta demi manggayuh karaharjaning praja mamayuayuning bawana.”
“Eh, Reng—ada apa?”
“Gawat! Babi di Lab!”
“Hah? Ayo kita liat!”

MINTARAGA: Ia kutembak!

PADYA: Aku, penembaknya!

SEMAR: Sudahlah, Indra!

INDRA: Hahaha… maaf, Ki Semar—saya menyamar dan menggoda Mintaraga demi Suralaya. Ia diminta menjadi jago dewata guna menumpastuntas balabuta Niwatakawaca. Gemana, Prof?

MINTARAGA: OK. Saya minta Jeng Supraba ikutserta.

INDRA: Baiklah.

Mintaraga segera
Menunaikan darma

Serang terjang
Perang kembang

RIMBAMALA.—Mintaraga aduyuda dengan bala Manimantaka.

“B-brenti! Siapa lo?”
“Gong, embat aja yo!”
“Siplah!”—(Duk! Bugh!) Ambruktakluk (Blug! Gludug!)—“Nih rasain! Hih!”—(Jplak! Gdubrak!)—“Aaawww!”
“Bah! Keparat! Kaladurga, Kaladurjana, Kaladuraksa, Kala-durmala, Kalastuwila, Kaladaksa, Kaladarba, Kalagarba, Kala-duskerta, Kaladusta, Kaladursila—majuserbu!”
“Reng, embat granat!” + “Okelah!”—(Plas!)

(BLAARR!)

Balabuta
Fanalaga

Dan tak lama
Supraba tiba

SUPRABA: Helo, Prof! Ngapain sih gue ikut? Gue takut ame Buta. Hiiyy… jijay!

MINTARAGA: Emansipasi! Ini kan sengketa cinta yang jadi konflik politik multipelik. Wanita cantik, asal cerdik, bisa men-jadi aset politik. Coba amati! Dengan dalih ditolak cinta, Niwa-takawaca hendak melabrak Suralaya. Resistensi libido menjadi agresi destrudo. Bahaya! Ia mesti ditembaktelak! Nah, biar buka rahasia, anda rayu ia—puji sampai kekihati, goda hingga lupalena, rajuk biar mabuktakluk!

SUPRABA: OK.

Bersama mereka
Ke Manimantaka

Gita asmara buta
Ala Niwatakawaca

MANIMANTAKA.—Seketika mukamurka Jendral Niwatakawaca tampak sukaria bersua dengan Supraba.

NIWATAKAWACA: Hait, Supraba! Huahahaha… akhirnya dikau datang, oh… Supraba, bidadari cantikmultisimpatik, gadis manislagiromantis, dara eloksemokmontok, perawan rupawan-nanmenawan, wanita jelitamahajuita, oh… Supraba, dilirik asik, dipandang senang, ditatap sedap, oh… Supraba, dari dulu aku rindu, sejak lama saya cinta, oh… Supraba, coba saya kurang apa? Maharaja, kayaraya, oh… Supraba, saya memang hmh! Dikau tau itu? Huahahaha….

SUPRABA: So pasti, Oom! Wow! Manimantaka indahmewah mahamegah serba raksasa! Nyesel gue gak dari dulu mau ame Oom. Huuh, papi sih, neko-neko! Maafin ya, Oom? Bener deh gue cinta ame Oom. Biar Buta, Oom raja, kaya, perkasa….

NIWATAKAWACA: Huahahaha… betul, oh… Supraba, siapa pun tak mampu mengungguliku! Aku tangguhplusampuh, saya hebatmahadahsyat, gua gagahmegadigdaya, oh… Supraba, kerna pintar merahasiakan kelemahan—

SUPRABA: Kelemahan apa?

NIWATAKAWACA: Lidah!

Rahasia terungkap
Pasopati menancap

Niwatakawaca
Sirnaperlaya



Semarang, 11 Maret 1993 Ki Harsono Siswocarito





Puja-pujiku hanya bagiNya
Pencipta semesta seisinya
Hormatku buat ki pujangga
Yang memahamuliakanNya

ASTINA.—Para Kurawa pada bicara bersama Jendral Bala-dewa, Presiden Mandura, membahas masalah petaka negara.

DURYUDANA: Dewan sidang yang mulia! Luapan samudra, musim hujan yang luarbiasa, hujanbadai, banjirbah, seolah mau menenggelamkan dunia, menjadi malabencana global. Apa hal ini juga menimpa negara Mandura?

BALADEWA: Iyo—sama! Malah beberapa daerah sudah lenyap dilahap luap samudra.

KARNA: Pun jua Propinsi Awangga! Nelayan jadi korban! Wisata bahari mati! Rusakporak di sana-sini.

DURYUDANA: Apa sebenarnya penyebab malabencana ini? Dan bagaimana cara mengatasinya?

SAKUNI: Maaf, Pak! Mungkin Prof Durna punya sumbangsih pemikiran otentik serta strategi pemecahan masalah yang jitu.

DURYUDANA: Benar, Prof Dur—silakan naik ke mimbar.

DURNA: Nah, hahaha… trims! Pakarakbar tak perlu berkoar di atas mimbar! Tut wuri handayani! Nah, hahaha… ketahuilah dewan sidang yang mulia—tak cuma Astina, Mandura, Awangga yang tertimpa malapetaka, malah sampai Bangladesh. Lebih mengerikan! Nah, secara teoritis—ada akibat, ada sebab! Semua mala hanyalah akibat dari suatu sebab. Samudra meluap, hujanbadai, banjirbah, malah gunung es di kedua kutub bumi pun mencair—itu semua kerna perbuatan manusia yang tak pernah peduli pada kelestarian lingkungnan hidup. Oknum tak bertanggungjawab!

BALADEWA: Krrk-cuah! Oknum keparat! Siapa, Prof?

DURNA: Menurut penelitian, itu semua akibat perbuatan si Antasena yang sedang bereksperimen di dasar samudra.

BALADEWA: Krrk-cuah! Laknat si Antasena!

KARNA: Apa maunya ia?

DURNA: Kerna ia Kasal Amarta, pasti punya tujuan politis. Demi kejayaan bangsa Pandawa! Ia mau menjadi penguasa samudra dan mengaku bergelar Sang Hyang Segara Rekayasa.

BALADEWA: Apa? Sang Hyang? Krrk-cuah! Edan! Si Antasena gila! Apa gelar itu ada dalam kitab, Prof?

DURNA: Ah, tiada! Semua pustaka telah dibaca. Pustaka Universitas Sokalima sampai Universitas Atasangin sudah saya teliti. Baik dalam kitab kuno model Tantu Panggelaran, Kitab Manik Maya, Kitab Paramayoga, Kitab Kanda, Kitab Sudamala, Kitab Nawaruci, Kitab Gatutkacasraya, Mahabarata, Ramayana, maupun kitab lain—tak ada gelar Sang Hyang Segara Reka-yasa. Sang Hyang gadungan! Palsu!

DURYUDANA: Jika begitu, gagalkan eksperimen si Antasena, tangkap dan adili!

SAKUNI: Jika Amarta melindungi?

DURYUDANA: Serbu!

“Setuju! Setuju! Setuju!” + “Ziplah!” + “B-beres!” + “OK!” + “Hidup Kurawa!” + “Hidup! Hidup! Hidup!…”


BALADEWA: Krrk-cuah! Tepat!

DURYUDANA: Baiklah, Jendral Baladewa—pimpinlah pasu-kan multinasional. Dan Letjen Karna harap memimpin pasukan Parakomando Astina.

BALADEWA: Siap!

KARNA: Siap!

“Pasukan Parakomando Operasi Samudra—siap gerak! Lapor: Dursasana, Dursala, Dursata, Durmuka, Durkarna, Dura-dara, Durwigata, Durmagati, Kartamarma, Kartipeya, Citragada, Citramarma, Citrakandala, Citrayuda, Citraksa, Citraksi, Aditya-ketu, Bimabahu, Dirgabahu, Dirgalacana, Dirgarama, Dreda-rata, Drepasastra, Drestahasta, Drepayuda Drepawarman,—siap bergerak!”
“Laksanakan!”
“Siap!”

Pertempuran samudra
Siapsergap Antasena

DASAR SAMUDRA.—Zona teritorial Amarta.

(BLAARR!)
“Krrk-cuah! Ranjo laknat!”
“Awas kapal slam!”

(BLAARR!)

ANTASENA: Hmh, Kurawa—jangan harap bisa mendobrak-porak hankam Amarta. Submarine Antaboga karyarekacipta Prof Dr Antaboga teramat handal. Aku Sang Hyang Segara Rekayasa lagi bereksperimentasi dalam Sea-Lab Oceanoculture demi masa depan bangsa. Siapa pun tak boleh masuk ke dalam Sea-Lab ini.

Gara-gara
Bumi gapai
Laut badai


TUMARITIS.—Dalam dukamala dunia, Panakawan pada berwawancanda.

“Excuse me, I’m Petruk Swayze. Dear Readres—how are you today? Fine? OK, so am I. Hehehe… ceritanya hujan nih: basah, bocor, becek! Ehm… Yun, Ren, Sis—ngapain? Ngeceng melulu! Kapan mejeng lagi di Matahari? Gantian! Ngampus kek, hehehe… gemana tuh Wayang Kampus ? Hura-hura aje! Bilangnya: aktivis! Ngilmiyah kek, hehehe… gak nyeni ah!”
“Omong ame siape, Truk?”
“To my fans, of course!”
“Huh, sok top! Sok pop!”
“Hehehe… emang kok! Eh, Gareng mana? Bang, si Gareng Mbeling udah dibikin belon? Cepet buru dimainin! Kan mau show—jangan cuma Bagong yang in action. Bosen!”
“Sentimen lu, Truk!”
“Harus! Nah, itu Gareng! Sini, Reng! Where’re ye from?”
“Show-biz!” + “Show off!”
“Zow, ngerti? Gak kaya lu: ngeceng melulu. Gak laku-laku!”
“Enak aje! Di sono gue observasi: meneliti perilaku budaya konsumerisme demi antisipasi bisnis masadepan. Kan asik!”
“O dasar Bagong Urban!”
“Udah! Pak Jun datang!”


ARJUNA: Kang Semar—Laksamana Antasena mesti dicari. Lama dia tak melapor ke Amarta.

SEMAR: Mari, Pak.

Arjuna dan Panakawan
Menembus jalan hutan

“E-e-babo-babo… Gog—ada p-penjelajah r-rimba Pringga-dingatala. S-siapa, Gog?
“Sst! Jendral Arjuna!”
“E-e-babo-babo… s-serbu!”—(Clap!)—“C-ciaat!”—(Dez! Zplak! Deb! Bugh!)—“Hugk-khoeekh uhuooo… m-mati a-aku, Gog!”—(Bruk!)
“Cakil mati, Lung!”
“Biarin saja, Gog!”
“Grr-babo-babo, keparat! Hadapi aku Dityakala Badai-segara! Heh, konco-konco: Pragalba, Rambut Geni, Padas Gempal, Jurangrawah, Buta Ijo, Buta Terong, Buta Endog—ayo keroyok si perwira keparat itu!”
“C’mon!” + “OK!” + “Move!”
“Satu, dua, tiga! Ciat! Ciat! Ciiaatt!”—(Blaarr!)—“Aduh! Ahk! Khk! Klk!”—(Blug! Blug! Blug!)
“Zuilah! Mampuz zemua!” + “Benal! Ayo lali, Mas!”
(Jleg!)—“Brenti!”
“Ziapa lu? O yez! Kenalin—gue Mr George! Yez, Mr Joz!”
“Busyet! Keren juga nih Buto—pake nama beken segala! Elu kalah, Reng.”
“Em… lu siape, Pelo?”
“Mistel Gabliel! Ayo pelgi ah! Usah ngulusin olang tak kaluan!”—(Bugh! Bugh!)—“Adow! Main pelmak lagi! Blantem-blantem, tapi spoltif! Ngawul’u!”
(Dor-dor!)—“Beres, Gong!”

Buta-buta mala
Pada sirnafana
Gentur tutur
Bangun catur
SEA-LAB OCEANOCULTURE.—Laksamana Antasena yang bergelar Sang Hyang Segara Rekayasa menggegerkan dunia berkat penemuan Sistem Hankam Dasar Samudra, serta Oceanomigration demi mengatasi masalah kepadatan pen-duduk masadepan dengan merekacipta Gedung Pencakar Laut. Eksperimentasi fantastik semodel itu menyebabkan pro dan kontra di seluruh penjuru dunia. Tidaklah gaib-ajaib jika Girinata, Presiden Sorgaloka, turun tangan.

GIRINATA: O Jagat Dewa Batara! Antasena—hentikan eksperimen itu! Usah mendahului karsa! Dan lepaskan gelar Sang Hyang yang kau sandang.

ANTASENA: Maaf, tidak bisa! Eksperimen bukan sekedar sok cendekia. Gelar bukan gagah-gagahan! Ini demi kehidupan.

GIRINATA: Babo-khhk-cuah! Kurang ajar! Apa kau tak takut pada pasukan multisemesta dari Jagat Triloka?

ANTASENA: Maaf, Tuan! Tidak!

GIRINATA: Keparat! Tangkap!

“Siap! Indra, Bayu, Brahma, Wisnu, Surya, Sambu, Kama-jaya, Yamadipati, Temboro, Trembuku—sergap si Antasena!”
“Siap! Siap! Siap! Siap!”
(BLAARR!)
“O Jagat Dewa Batara!” + “Mundur! Bayu Mundur!”
“Bergenzong-pada-ndoyong, si Antasena tak tertaklukkan! Benar-benar adidaya ia! Celaka! Ini urusan Ki Semar, Tuan!”
“Tuh Ki Semar datang!”


SEMAR: Ada apa, Tuan? Bakutempur sama Pak Antasena rupanya. Maaf, Maha Sang Hyang! Demi pranata alam—Sang Hyang Segara Rekayasa sebenarnya bergerak atas kuasa Sang Hyang Wenang. Nah, Pak Antasena—tugas telah sampai! Wenang mencipta, Wenang merekayasa, Wenang memelihara. Bukankah begitu, Maha Sang Hyang?

“Soal LBH—romo pakarnya!”
“LBH itu apaan sih, Truk?”
“LBH: Lakon Bangsa Hyang.”


SANG HYANG WENANG: Ki Semar benar! Manggayuh karahar-janing praja, memayu-hayuning bawana.

Petik bunga guna
Intisari merdeka



Semarang, 28 Mei 1991 Ki Harsono Siswocarito

Selengkapnya....
 
Creative Commons License
eXTReMe Tracker