Gita Asmara a la Arimbi



Demam asmara sungguh
Bagai bara Sahara;
Lalu membeku
Bagai bongkah salju
Di kutub Janubi:
Tak terselimuti!

ISTANA, PRINGGODANI.--Sebongkah hati yang resah-gelisah penuh halusinasi menari-nari di alam mimpi. Senyum pun mengembang-tenang tatkala si do'i datang menghapus bimbang. Rintihan tak terelakan menjawab segala rasa yang terpendam di lubuk kalbu yang maha dalam. Dan terdengarlah suara igauan:--

Bim…! Kemarilah sayang,
Jangan biarkan daku
Menderita begini
: panas serasa bara,
dingin serasa salju!

Mendengar igauan semodel itu Arimba terhenyak; lalu ia bangkit meneliti dari mana datangnya igauan itu. Selidik punya selidik, ternyata igauan itu tercetus dari kamar adik perempuannya, Arimbi.

ARIMBA: Ori, kenapa kau?

Tak ada jawaban! Arimba melangkah ke kamar Arimbi.

ARIMBA: Ori, Orimbi, bangun!

Seraknya teriakan itu memecah keheningan malam. Arimbi menggeliat; lantas ia perlahan membelalakan matanya. Buru-buru ia menyelimuti tubuhnya yang hanya mengenakan Sloggi-Tanga. Sempat pula ia menguap mirip buaya.

ARIMBI: Ada apa, Mas?

ARIMBA: Kau tadi mengigau! Mimpi apa, Ori?

Arimbi berkerut-kening pura-pura mengingat-ingat mimpinya. Ia cengar-cengir ketika muncul di benaknya bagaimana cara untuk mengelabuhi abangnya itu.

ARIMBI: Em… anu, mimpi dikejar maling.

ARIMBA: Mimpi dikejar maling? Mosok malah bersayang-sayang begitu?

ARIMBI: O, sorry: soalnya, maling lain dari yang lain. Dianya itu cowok tiga ce!

ARIMBA: Apa itu cowok 3c?

ARIMBI: Coowok 3c itu artinya; cakap-cakep-cuwek!

ARIMBA: Ah, ada-ada saja kau ini! Ngomong-ngomong, bagaimana tugasmu siang tadi? Berhasil kau bunuh si Bima tengik itu?

Arimbi terkesiap demi mendengar nama "Bima" disebut-sebut dengan penuh kebencian sebegitu rupa. Namun ia nyengir domba: geli juga! Justru Bima itulah cowok 3c pencuri hatinya. Siang tadi ia diberi mandat olek kakaknya untuk menghabisi Bima. Memang pada mulanya Arimbi marah besar demi mendengar berita agresi Pandawa terhadap negaranya--Pringgodani; namun sehabis ia melihat penampilan Bima yang 3c itu, kemarahannya luntu sejuta persen dan… ah, ia terserang demam asmara.

Sepanjang siang hanya dikaulah yang terbayang;
Semalam suntuk hanya dikaulah yang kupeluk!

ARIMBA: Kenapa ndomblong ngeblong begitu, Ori?

ARIMBI: Eng… nganu, berita tentang Agresi Pandawa itu kosong-ompong. Bohong! Yang ada hanya beberapa imigran gelap, para pelintas-batas yang sedang membuka ladang baru! Katanya, dari Astina mereka diusir dari Negara Astina karena kalah judi… kasihan, ya, Mas Rimbo.

ARIMBA: Imigran gelap yang kalah judi? Lantas menjadi pelintas batas, begitu?

Ternyata Arimba tergelitik juga oleh berita aspal rekaan adiknya itu. Betapa mudahnya Arimbi memutarbalikkan fakta-fakta sosial politik.

ARIMBA: Tragis! Kalah main dadu, jadinya begitu.

ARIMBI: Bukan main dadu; itu judinya orang buta huruf. Kuni! (saking kunonya). Negara Astina tidak seperti negara kita, Pringgondani, yang masih memiliki budaya buta.astina sudah lama menyatakan B3B (bebas tiga buta), mangkanya di sana huruf dan angka sudah menjadi alat judi dan siap diexsport!

ARIMBA: Ha, ha, ha… kau memang hebat, Ori! Bangga aku punya adik sehebat kau!

Arimbi lagi-lagi nyengir-domba. Puasla sudah hatinya dapat membodohi abangnya secara mufakat-bulat, alias setuju tanpa ita-itu terhadap berita palsu. Lalu ia memiringkan badannya di atas kasur dunlopillo.

ARIMBI: G'nite, Bro!

ARIMBA: G'night!

Pagi menyambut hari begitu cerah; namun Arimbi tampak gelisah. Matanya merah, semerah biji saga. Bisa dipermaklum karena ia tak bisa tidur seperti biasanya yang suka mendengkur. Amit-amit jabang bayi: cewek kok tidur mendengkur! Opo tumon!

Kali ini Arimbi berdandan rapi sekali. Ia berusaha setengah modar mematut-matut dirinya. Pipinya yang kaya mangga dibelah empat dibedaki Viva campur Kelly untuk mendempul jerawatnya yang kaya telur puyuh itu. Lantas ia goreskan lipstick merah-darah pada bibirnya yang memoncong babi; hasilnya, ya, kaya babi minum darah ayam! Badannya yang gembrot-peot dan berkulit hitam-lethek berlenggak-lenggok: maunya sih menyaingi peragawati di atas catwalk; tapi, olah-gayanya malah mirip gajah bengkak! Ia berusaha tersenyum manis setengah mampus, namun muka-muaknya tak bisa diajak kompromi. Alhasil, ia hanya bisa menyeringai kaya draculla.

Arimbi benar-benar dongkol terhadap dirinya; namun karena sudah kerasukan setan-penasaran rohnya Sarpakenaka, ia nekad juga hendak menggoda Bima. Ia mbatin: dengan sekali hentak pasti deh Bima ditanggung puyeng-gayeng mabuk kepayang kepadanya.

Di pintu rumahnya ia sempat bertabrakan dengan Arimba.

ARIMBA: Hey! Gila! Apa-apaan kau ini, Ori? Kok nganeh-nganehi! Mau ke mana?

ARIMBI: Em… anu, mau menyelediki para imigran gelap itu!

ARIMBA: Tapi… dandananmu itu, ya ampun, kaya barongan-edan!

Arimbi ersipu malu; namun apa pedulinya sama setan lewat! Arimbi secepat kilat meloncat ke atas jeep open-roofnya. Lantas tancap gas bablas nggeblas menuju perbatasan Pringgodani.

Kayu agung pohonnya besar,
Batangnya rindang daunnya lebar;
Dihatinya segar mekar kembang,
Berharap datangnya kumbang.

PERBATASAN, PRINGGODANI.--Di perbatasan yang dijaga ketat itu Arimbi sempat perang mulut dengan penjaga. Namun karena ia adik seorang pejabat pemerintah nomor wahid, plus lihai sekali dalam soal suap-menyuap, segalanya beres! Dengan santainya Arimbi memasuki kawasan hutan bukaan.

Jeep open-roofnya diparkir seenaknya di tengah jalan, kemudian Arimbi banting-kaki menuju lokasi para imigran gelap yang tak lain ak bukan adalah para Pandawa.

Lokasi itu tampak begitu sepi. Hanya terdengar cicit burung dan lolong srigala di kejauhan. Arimbi melayangkan pandangannya; lalu tersenyum. Di dekat sebuah rumah papan ada sesosok bayangan hitam. Arimbi perlahan mendekat; matanya berbinar-liar. Tiba-tiba ia memeluk oyang yang berdiri di dekat rumah papan itu.

ARIMBI: O, Mas… Mas, Bim! Gue kangen beratz nih sama you. Masa andanya menega membiarkan Iri merana begini?

Orang itu masih berdiri kaku. Arimbi malah tambah gencar menciuminya.

ARIMBI: Mas Bima, sumbatlah gejolak cinta ini. Gue gak tahan dilanda demam asmara yang panas-dingin seperti kepala masuk tungku dan badan masuk kulkas.

Orang itu tetap berdiri kaku. Saking gemasnya Arimbi meninjunya. Namun tiba-tiba dia menjerit kesakitan.

ARIMBI: Aduh bajirut! Gak taunya patung kayu, sialan!

Menyadari tingkahnya yang senewen model begitu Arimbi celingukkan sambil senyam-senyum sendiri. Edan! Untung aja ndak ada orang.

Di kejauhan tampak orang sedang menebang pohon. Arimbi bersorak dalam hati: itu dia Mas Bima! Dengan berjingkat-jingkat ia mendekati orang itu dari belakang. Langsung saja ia menutup mata orang itu.

ARIMBI: Hayo Mas Bim! Coba terka siapa saya?

Karuan saja orang itu terkejut, hingga kapaknya mencolot. Ternyata orang itu seorang kakek-tuek, botak dan sudah tak bergigi lagi.

KAKEK: Eh! Afa-afaan kowe ini?

ARIMBI: Oh, maaf, Kek! Saya kira Kakek Mas Bima!

Jelas saja, kecele semodel itu malunya tujuh turunan. Si kakek hanya bengong-ompong, lalu meringis. Dasar pertu (perawan tua!).

KAKEK: Kowe orang lagi nyari siafa?

ARIMIBI: Nyari Mas Bima, Mbah!

KAKEK: Pacarmu yang di Tegal itu?

ARIMBI: Em… anu, iya-iya, Mbah! Cuman dianya tidak setia, munafik, suka gonta-ganti pacar, Mbah!

KAKEK: Ho-oh! He-he-he… gamfang. Felet ae biar setia!
ARIMBI: Gemana caranya, Mbah?

KAKEK: Gamfang, tuh nanya ama si Nenek!

Terdengarlah tawa ngekek kaya nenek sihir a la Mak Lampir versi sandiwara radio.

NENEK: Banyak cara untuk menggunagunai cowok sombong model si Bima itu. Mau pake yang mana: Jaran Guyang, Setan Kober, Semar Mesem, atau Tali Roma? Semuanya ampuh dan dijamin cespleng, cucuku!

Setelah tirakat selama tujuh tahun tujuh bulan tujuh hari tujuh malam, serta melengkapi segala uba-rampenya, Arimbi mulai beraksi. Ia mencoba semua guna-guna itu. Biar Bima klenger tujuh turunan!

Jat Bima singa naba manua ya manui
Bak buaya lapar melihat bayi!

Sore itu Bima seperti terserang flu: kepalanya ngelu! Pikirannya buyar; dan kepribadiannya ambyar! Melihat tingkah Bima yang nyleneh semodel itu, Arjuna yang jago bercinta tahu gelagat.

ARJUNA: Mas Bima, kau kena guna-guna yang over-dosis!

BIMA: Pantes! Rasanya kok serba tidak enak. Tapi saya rasa tak pernah nyalahi orang.

ARJUNA: Jika melihat motifnya, biasa, dendam asmara; dan jika memandang bentuknya, ini pasti datang dari budaya buta. Maklum: primitif!

BIMA: Kalau begitu, pasti ini dari Pringgondani yang berkiblat ke timur dan selatan itu! Biadab!

Bima tiba-tiba berjingkat keluar, lantas nggeblas menuju Pringgodani. Arimbi yang sejak dulu menunggu dan berjanji tak akan mandi bila belum bersua dengan Bima, betapa girang hatinya. Begitu melihat Bila, kontan Arimbi mandi-bunga. Buru-buru ia memjemput Bima.

ARIMBI: Akhirnya kau datang juga, Bim!

Bima diam membatu.

ARIMBI: Sungguh mampus aku penasaran ngeliat orang yang suka menyepelekan perempuan!

BIMA: Apa aku nyalahin kamu?

ARIMBI: Tidak!

BIMA: Lalu apa maumu?

ARIMBI: Suka-suka dong!

Bima sebenarnya tahu segala apa yang ada dalam batin Arimbi. Dewa Ruci telah mengajarinya membaca alam itu. Dengan amarah yang tak tebendung lagi Bima menjambak rambut Arimbi.

ARIMBI: Tolooong!!!

Iblis pada meringis, setan ketawa ngakak,
wikwikong monyong pada bengong!

Dalam pada itu roh Sarpakenaka melesat keluar dari jiwa Arimbi. Sorot mata merahnya beralih pucat-mayat. Arimba kaget, langsung melabrak Bima.
ARIMBA: Bajingan! Rasakan nih jurus keramatku ini!

Amukan Bima tak mungkin tertandingi oleh oleh Arimba seorang. Satu-satunya cara untuk melumpuhkan Bima hanyalah dengan mengeroyoknya ramai-ramai.

ARIMBA: Brajamusti! Brajadenta! Brajakisalpa! Brajalamatan! Purbakesa! Kalabendana! Ringkus cepat si Bima tengik ini!

Begitu ada kesempatan Arimba cepat-cepat cari selamat bersembunyi di ketiak ayah mertuanya. Busyet! Kaya ayam kampung! Sedangkan Arimbi ketakutan diburu hantu Sarpakenaka yang menuntut ganti rugi karena kurang sesaji. Arimba tidak dapat berbuat sesuatu, begitu pula ayah mertuanya.

Arjuna menyelamatkan Bima yang hampir saja di buang ke kamar mayat. Cepat pula Kresna datang mengobati Bima denmgan Kembang Cangkok Wijayakusuma; ilmu posmodern tentang penyelamatan suksma dari kematian yang belum takdirnya! hadir pula Kyai Semar beserta segenar para Panakawan pendamping putra-putra Pandawa. Dan Kyai Semar jugalah yang mampu meredam roh gentayangan Sarpakenaka yang mengganggu Arimbi.

Terberitakan Arimbi menjalani bedah estetik di salonnya Tante Kunti. Operasi kosmetik itu ditangani beberapa ahli bedah. Dr Lars M Visnes, Dr Steven Herman, dan Dr Thomas J Krizek. Mereka sepakat untuk medekonstruksi Arimbi secara total: dermabase, surgical body contour, breast augumentation, rhydectomy, suction, lipectomy, serta abdominoplasty. Hasilnya sungguh kejutan. Arimbi si muka-muak itu kini cantik-sinematik bukan kepalang: pokoknya Madonna dan Dolly Parton kalah total!

ARIMBI: Mas Bim, apakah kau kini mencintaiku?

BIMA: Tidak!

ARIMBI: Gue ini kurang apa? Demi kau kulakukan segalanya!

BIMA: Apa artinya wajah baru, penampilan baru, mode baru, tapi tak pernah berpikiran baru!

ARIMBI: Gue udah kagak tau mesti berbuat apa lagi?

BIMA: Seek for all novelties all over the world!

Hancur lebur jadi bubur perasaan Arimbi. Ia melangkah gontai; lantas memutuskan untuk menjalani "bedah kartun" di salonnya Mas Goen, kemudian "bedah digital" di salon Ki dalangmaya. Ya, demi cinta, demi Bima.

Mas Bim, Mas Biiimmm…!!! Teriak hati Arimbi berontak, menyeruak ke segala relung-relung batin yang tak terkunci.

Ki Harsono Siswocarito
Semarang, 13 Oktober 1988

Selengkapnya....

Album Lakonet

Beberapa lakonet telas siap naik cetak dalam bentuk buku gandabahasa: Indonesia, Sunda, Jawa, dan Inggris.

Selengkapnya....

Sastra Pedalangan

I. Pendahuluan

Sastra pedalangan tampaknya belum masuk dalam sebuah entri tersendiri dalam kamus sastra baik Indonesia maupun Jawa. Tampaknya istilah seni pedalangan lebih lazim dikenal dalam perbendaharaan kamus tersebut. Akan tetapi, sastra pedalangan berbeda dengan seni pedalangan. Sastra pedalangan lebih mengacu pada rekabahasa dalang; sedangkan seni pedalangan mengacu pada dramaturgi atau seni pertunjukan wayang.

Sastra pedalangan juga berbeda dengan sastra pewayangan. Perbedaan tersebut tampak pada sastra pewayangan yang lebih mengacu pada cerita-cerita wayang, sedangkan sastra pedalangan lebihmengacu pada lakon-lakon garapan dalang dalam seni pertunjukan wayang.


II. Metodologi

Metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah metode penelitian pustaka dengan menggunakan wayang audio berjudul Jaya Renyuan garapan ki dalang Dede Amung Sutarya. Data diperoleh dengan mendengarkan kaset tersebut dan melakukan transkripsi pada unsur-unsur yang dibahas. Kemudian data tersebut dikaji dengan mengacu pada referensi tentang sastra pewayangan dan seni pedalangan Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.


III. Pembahasan

Sastra pedalangan adalah rekabahasa dalang dalam seni pertunjukan wayang. Sastra pedalangan terdiri dari murwa atau pelungan (suluk pembuka pedalangan), nyandra janturan (deskripsi jejer adegan pertama) dan pocapan (narasi adegan), suluk (puisi padalangan), antawacana (dialog wayang), sabetan (bahasa tubuh wayang), suara (bunyi, celotehan, dan onomatopi), tembang (nyanyian), mantra (puisi magis), dan lakon (cerita wayang).

A. Murwa


Murwa adalah suluk pembuka dalam pertunjukan wayang. Pedalangan Jawa Timur menggunakan istilah pelungan; pedalangan Jawa Tengah menggunakan istilah ilahengan; dan pedalangan Jawa Barat menggunakan istilah murwa. Di bawah ini adalah contoh murwa pendek pedalangan Jawa Barat.


Kembang sungsang binang kunang

Cahaya nira kadya gilang gumilang


Murwa panjang di bawah ini dari pedalangan Jawa Barat.

Adam adam babuh lawan
Ingkang ngagelaraken cahya nur cahya
Dangiang wayang wayanganipun

Perlambang alam sadaya

Semar sana ya danar guling
Basa sem pangangen-angen
Mareng ngemaraken Dzat Kang Maha Tunggal
Wayang agung wineja wayang tunggal
Wayang tunggal

B. Nyandra


Nyandra adalah deskripsi adegan dengan menggunakan bahasa prosa dalam per-tunjukan wayang. Terdapat dua jenis nyandra: janturan dan pocapan. Janturan adalah deskripsi adegan dengan iringan gamelan; dan pocapan adalah narasi adegan tanpa iringan gamelan.


1. Contoh Janturan

Suh rep data pitana! anenggih wau kocapa negara ing pundi ingkang kaeka adi dasa nama purwa, eka sawiji adi linuwih dasa sapuluh nama iku panjenengan purwa nami wiwitan. Sandyan katah titahing dewa kasongan ing akasa, sinangga ing pertiwi, kaideng ing samudra, tebih ing parang muka, dasar negara Dwarawati silokane jero tancebe, jembar laladane, gede obore, duwur kukuse, padang jagate, adoh kakoncarane. Sigeg ingkang murweng kawi paparab kang dadi nalendra, inggih kang ngarenggani pura, jejeneng Sri Maha Batara Kresna ya Prabu Jenggalamanik, Prabu Harimurti, Prabu Padmanaba, Prabu Basudewaputra, saweg dipunadep dening ingkang rayi Arya Setiyaki lan ingkang raka Patih Udawa. Sreg tumeluk kaya kuncim pertala mukanipun sarta kadiya tata malih krama paningalipun Padmanegara lan Udawa saking ajrih dateng pangkonan. Samya prapta ngabiyantara, jajar denira pinara.

Dan di bawah ini contoh janturan adegan berikutnya.

Nyariosaken wontening pasanggrahan Ran-duwatangan. Prabu Darmakusuma, Bratasena, Arjuna, Nakula lan Sadewa, teu kakantun para pahlawan, Drestajumena, Bangbang Irawan, Raden Pancawala, Raden Sumitra, teu kakantun para tamtama, bintara, parantos siap siaga ngantos dawuhan Sri Mahabatara Kresna. Satumbakna, sagadana, sapedangna, sapanahna, samapta parabot perang teu kakantun.

2. Contoh Pocapan

Pocapan adalah nyandra yang tidak diiringi gamelan untuk menceritakan peristiwa dalam adegan. Di bawah ini adalah contoh pocapan dalam lakon Jaya Renyuan garapan dalang Dede Amung Sutarya:

Padmanegara nyandak dua hulusapu bade dicipta ku Kresna. Atuh Kresna rep sidakep ana sinuku tunggal babakane caturdriya--catur papat, driya angen-angen, sir budi cipta kalawan rasa. Pangambung teu diangge ngangse; soca teu diangge ningal; cepil teu diangge ngarungu; baham teu diangge ngucap lir ibarat anu paeh ngadeg, nanging bentena pedah ngangge ambegan.

Nanging tadige manggahing nu Mahakawasa teu weleh nganter ka manusa rek hade rek goreng asal tanggel jawab dirina pribadi. Maksudna diduluran, maksadna diijabah. Ilang dua hulu sapu, janggelek dados ponggawa, anu hiji dados satria.

Dan di bawah ini contoh pocapan penutup adegan yang sekaligus sebagai pengantar ke adegan berikutnya.

Kebat! Sri Mahabatara Kresna kaliyan ingkang rayi Padmanegara samadia tumindak dateng pasanggrahan Randuwatangan.

C. Suluk

Suluk adalah citra yang dinyanyikan oleh ki dalang dalam pakeliran wayang. Di bawah ini adalah contoh suluk dari pedalangan Jawa Barat.

Saur nira tandana panjang
Sinenggih sabda ya uninga lawan
Sabda ya uninga lawan
Sauri nira tandana panjang sinengih
Sabda uninga
wis mama
Ulun layu dening sekti ala bakti dening asih
Ya dening asih
Wong asih ora katara

Dan di bawah ini adalah contoh suluk “Greget Saut”.

Murca sekarang wawang
Murca ya sekarang wawang
Swala salin busana
Murca sekarang wawang
Swala salin busana
Murub mubyar cahayanira
Kadia prada tinabur
Kadia kunang-kunangan
Kunang-kunangan

D. Antawacana


Antawacana adalah dialog antartokoh wayang. Sedangkan antawacana antara tokoh wayang dengan nayaga, wirasuara, atau juru kawih dinamakan dialog samping (aside). Antawacana biasanya disampaikan setelah pocapan. Di bawah ini contoh dialog dalam lakon Jaya Renyuan garapan dalang Dede Amung Sutarya.

Kresna: Eladalah, Yayi, Yayi Setiaki.

Setiaki: Kaula nun.

Kresna: Kakang Patih Udawa.

Udawa: Lo, lo, lo, Hahahah… pun kakang Patih Udawa.

Kresna: Marajeng ka payun calikna.

Setiaki: Ti payun anu kapihatur pun rayi nyanggakeun sembah pangabakti mugiya ditampi.

Kresna: Sembah Rayi ditampi kudua panangan kiwa kalawan tengen, disimpen di luhur dina embun-embunan, di handap dina pang-konan, dicatet dina tungtung emutan anu teu keuna kuowah gingsir.

Setiaki: Ngahaturkeun nuhun. Kalih perkawisna—

Kresna: Kumaha, Yayi?

Setiaki: Bilih aya kalepatan ageng sumawanten alit, agung cukup lumur, neda jembar hapunten anu diteda.

Kresna: Perkawis kalepatan sok bujeng ku aya basana menta dihampura, sanaos teu aya basana akang parantos jadi lautan hampura kana kalepatan sampean, Yayi.

Setiaki: Ngahaturkeun nuhun.

E. Sabetan


Sabetan adalah gerak wayang yang meliputi tarian, lakuan, dan lagaan. Tarian adalah gerak wayang yang diiringi nyanyian dan gamelan untuk memasuki atau keluar panggung, serta tarian-tarian Panakawan dalam adegan gara-gara. Lakuan adalah gerak wayang yang hanya diiringi kecrek atau kendang untuk menghidupkan aspek dramaturgi pedalangan. Sedangkan lagaan adalah gerak wayang dalam peperangan baik dengan iringan gamelan maupun hanya diiringi kecrek dan kendang.


F. Suara

Suara dapat berupa teriakan, jeritan, aduhan, tobatan, atau bunyi tiruan yang berupa onomatopia. Suara merupakan pelengkap sabetan lagaan.

G. Tembang


Tembang adalah nyanyian yang dilantunkan oleh pesinden, wirasuara, atau dalang. Tembang pembuka pakeliran dilantunkan olen pesinden. Tembang pengiring pakeliran dilantunkan oleh pesinden dan wirasuara. Tembang dalam adegan Limbukan dan Gara-gara dilantunkan oleh dalang yang berkolaborasi dengan pesinden atau bintang tamu. Di bawah ini adalah tembang pembuka dari pedalangan Jawa Barat:

Sampurasun dulur-dulur
Nu aya di pilemburan
Wilujeng patepang dangu
Ti abdi saparakanca
Ti abdi saparakanca
Gamelan Munggul Pawenang
Nyanggakeun hiburanana, Juragan
La mugiya janten panglipur
Pangbeberah duh kana manah

Sedangkan tembang berikut ini adalah yang dinyanyikan oleh dalang Dede Amung Sutarya dalam lakon Jaya Renyuan:

"Lagu Nu Ngusep"

Barung herang liar mijah
Clom kiriwil ari anclom ngagiriwil
Mawa epan rupa-rupa
Clom kurunyud lamun anclom sok ngurunyud
Plung kecemplung plung kecemplung
Empan teuleum kukumbul ambul-ambulan
Kenur manteng jeujeur jeceng
Leungeun lempeng panon mah naksir nu mandi
Kop tah lauk mere dahareun
Mangga mangga mangga geura tuang
Geura raos ditanggung deudeuieun
Mangga mangga ulah isin-isin
Empan cangkilu ungkul dilangkung
Empan papatong kalah dipelong
Ku epan colek kalah ngadelek
Lekcom lekcom panon belek nyambel oncom

Sedangkan di bawah ini adalah contoh tembang pengiring adegan.

Ngamumule kasenian
Ngamumule kasenian
Ulah kur reresepan
Geuningan mah reresepan
Ngandung maksud, bapa, jeung tujuan
"Hmmmmmhh!"
Ngandung maksud jeung tujuan
Ngawujukeun deudeuh
Ngawujudkeun da persatuan
Urang saling mempertingi
Harkat darajatna seni
Pupujan nu sami sadayana mah
Geuningan sing sami-sami
"Deuh kaula nun rayi panjenengan Nakula."
Mun lepat silih dangdosan
Mun lepat silih dangdosan
Sangkan janten, dunungan
Sangkan janten sauyunan
"Rayi panjenengan Sadewa."
Tara pisan tara pisan kaawonan
Tara pisan kaawonan
Sing luyu mah geuningan
Sabilulungan
"Yayi! Bagjakeun pun kakang ti Dwarawati."
"Linggih Raka Batara."
Jungjung darajatna seni
Jungjung darajatna seni
Ku jalana hati nu murni
Persatuan ulah lali
Persatuan ulah lali kade masing
Kade kasilih kujunti
Mangga urang sasarengan
Majengken seni kagungan

H. Mantra


Mantra atau sastra mantra pedalangan ada dua kategori. Pertama, mantra yang berupa doa ki dalang dalam penyelenggaraan pakeliran. Kedua, mantra yang berupa rapalan tokoh wayang dalam mengeluarkan kesaktiannya.

Contoh pertama berupa mantra pembuka pakeliran dari Mpu Tan Akung:


Ingsun Angidhepa Sang Hyang Guru Reka,

Kamatantra: swaranku manikastagina.


Contoh kedua berupa rapalan mantra penyirepan oleh tokoh wayang Indrajit:


Rep sirep si Megananda

Wong sarewu padha tumut

Salaksa wong serah nyawa


Sastra mantra dalam pedalangan terutama banyak digunakan dalam pergelaran ritual ruwatan.


I. Lakon

Lakon dalam lakonet berasal dari cerita-cerita wayang yang dapat diklasifikasikan ke dalam cerita pakem, carangan, gubahan, and sempalan. Cerita pakem berasal dari Mahabarata, Ramayana, Serat Paramayoga, Serat Pustaka Rajapurwa, Serat Purwakandha, dll. Cerita carangan adalah versi cerita pakem yang sudah dimodifikasi oleh ki dalang. Cerita gubahan adalah versi cerita yang diadaptasi. Cerita sempalan adalah cerita wayang kreasi baru.

IV. Simpulan

Sastra pedalangan sebagai bagian dari seni pedalangan merupakan rekabahasa dalang dalam seni pertunjukan wayang. Unsur-unsur sastra pedalangan terdiri dari suluk pembuka yang dengan istilah murwa, ilahengan, atau pelungan. Deskripsi jejer adegan pertama dikenal dengan istilah nyandra atau janturan, dan narasi adegan atau narasi peristiwa yang dikenal dengan istilah pocapan. Puisi pedalangan dikenal dengan istilah suluk yang berupa greget saut, sendon, dan ada-ada. Dialog wayang dikenal dengan istilah antawacana, catur, atau ginem. Bahasa tubuh wayang dikenal dengan istlah sabetan yang meliputi tarian, lakuan dan lagaan. Suara meliputi bunyi, celotehan, dan onomatopi. Tembang atau nyanyian baik yang dilakukan oleh dalang, pesinden, wiraswara, maupun bintang tamu. Puisi magis atau sastra mantra pedalangan. Dan lakon atau cerita wayang.

References

Haryanto, s. 1992. Bayang-bayang Adhiluhung. Semarang: Dahara Prize.

Prabowo, Dhanu Priyo, dkk. 2007. Glosarium Istilah Sastra Jawa. Jakarta: PT Buku Kita.

Purwadi. 1994. Karno Tandhing. Solo: Amigo.

Sukatno, Anom. 1993. Janturan lan Pocapan Ringgit Purwo. Sukoharjo-Surakarta: Cendrawasih.

Susetya, Wawan. 2007. Dhalang, Wayang dan Gamelan. Yogyakarta: Penerbit Narasi.

Sutarya, Dede Amung. 1977. Jaya Renyuan. Indonesia: Gita Record Metropolitan.

Timoer, Soenarto.1988. Serat Wewaton Padhalangan Jawi Wetanan II. Jakarta: Balai Pustaka.

Selengkapnya....

Liputan Blog Lakonet: Blogger bicara tentang Lakonet

Sungguh tiada disangka, jika blog Lakonet akan mendapat apresiasi yang sebegitu luasnya. Apa ini gara-gara virus Thukul yang menjual "kekatro'an" menjadi sesuatu yang lebih bernilai "uniK" oleh karenanya perlu dilestarikan, sehingga blog "wayang" yang tak kalah katrok ini ikut-ikutan terkena imbasnya?

Bisa jadi iya, bisa juga tidak. Terserah para pemirsa lah. Bukankah di era serba post (posmodernisme, strukturalisme, feminisme, dan post-post yang lain sampai poskatrokisme:) otoritas pengarang sudah berbagi dengan otoritas pembaca? Maka selaku pengarang yang mencipta dan mereka-reka tokohnya, sudah seharunya Ki Dalang memberikan apapun tafsir yang diberikan oleh para pemirsa.

Blog Lakonet pertama kali beredar bulan November 2007. Ki Dalang sebelumnya sudah lama terkagum-kagum dengan medium blog yang dapat menyebarkan gagasan hanya dengan pengelolan yang sederhana. Lalu ide itu baru direalisasikan, dengan desain, dana managerial blog yang masih jauh di bawah standar tim kreatif mas Thukul apalagi eyang Ndoro Kakung:)

Nama yang disebut terakhir, telah memberikan sumbangan yang sangat berarti dalam turut menyebarkan blog ini. Dari pantuan tim "teleklenik" Ki Dalang, setelah direview Ndoro Kakung, blog ini makin rame. Terima kasih untuk Ndoro atas apresiasinya dan "penjualan karcis" nonton wayang gratisnya alias limpahan pengunjung ke blog ini. Baca liputan Ndoro Kakung "Lakonet Pecas Ndahe"

Sebelum Ndoro Kakung, Mas Duljoni telah menulis review di forum Angkringan, yang kalau tak salah tempat nongkrongnya para blogger Jogjakarta. Terima kasih Mas. Kehadiran Anda adalah tangan-tangan tuhan, yang kendati tak saya undang telah memberikan uluran tangan.

Liputan perdana blog Lakonet ini dimuat di rubrik blog suaramerdeka.com. Terima kasih. Matur Suwon.

Dan tak ketinggalan, "penggemar gelap" ki dalang adalah seseorang di balik blog ningrat.com yang telah dengan sukarela dan bahkan tak mau dikenal namanya telah menyebarluaskan setiap gagasan Ki Harsono Siswocarito. Manusia ini sangat baik sekali, bahkan kelewat baiknya.

Oh ya, ide Lakonet kali pertama dikirim ke portal Wikipedia (versi Jawa, Sunda, Indonesia, dan Bahasa Inggris). Awalnya oleh pengelola ditolak, karena tak ada tautan referensi. Yang benar saja, saat itu memang belum ada referensi tentang lakonet dalam bahasa Indonesia.

Dalam waktu dekat, mengingat semakin populernya blog ini, maka akan disediakan halaman khusus yang memuat ulasan terhadap blog lakonet dan juga forum. Rencananya juga, Ki Dalang juga akan mengadakan kontes menulis lakon. Lebih detailnya, akan dipaparkan dalam posting selanjutnya.

Selengkapnya....

Dawala Pelopor Pendidikan Massa



Kabut mulai tersibak!
Sang surya terbelalak
Menatap setiap gerak!


DESA TUMARITIS.--Kyai Semar Badranaya, ya Ki Lurah Kudapawana tampak tercenung dalam renung: masyarakat sudah berubah! Desa Tumaritis mulai beranjak menuju kehidupan yang dinamis. Berbeda dari pedesaan zaman dulu, desa-desa yang terbelenggu dalam statisme sistem tradisi. Tumaritis bergerak penuh gejolak.

Bersamaan dengan murcanya Kyai Petruk, muncul Begawan Dawala yang super-mbeling bikin goro-goro. Berbeda dari Kyai Petruk dalam bergoro-goro yang sok penuh banyol-konyol, Begawan Dawala bikin goro-goro dengan mencanangkan kehidupan yang B3B (bebas tiga buta). Alhasil masyarakat Amarta menjadi pintar dan terpelajar tanpa mengimpor mahasiswa KKN beserta DPL gombalnya dari Universitas Sokalima. Meskipun demikian, masyarakat yang pintar-terpelajar itu tidak terlepas bebas dari problema yang dihadapinya. Bahkan terjadi wabah baru yang baru mewabah. Kini pelajar sudah jadi "polusi" yang menjangkitkan epidemi intellectual deficiency! Polusi baru pada masyarakat modern yang secara langsung berdampak super negatif pada kehidupan manusia.

Polusi dan epidemi itu jelas bukan akibat cerobong asap dan limbah industri baja, pupuk, dan apa sajalah yang sok mencemari lingkungan; namun, akibat limbah industri pendidikan itu sendiri, yang diakui atau tidak mencemarkan! Setidaknya begitu menurut Begawan Dawala. Dengan cemas dia mengamati industri pendidikan: menurutnya, tidak terdapat keseimbangan yang harmonis antara mesin-mesin pada tiap jenjangnya; sehingga produk-produknya tak pernah tepat guna. Sebagai akibatnya, tak ada produk jadi yang siap pakai! Di samping itu, industri pendidikan penuh dengan pemborosan! Ibarat padi satu ton, yang jadi beras cuma satu kilogram, dan akhirnya hanya jadi sesuap nasi. Lainnya menjadi limbah produksi industri pendidikan itu sendiri! Jika limbah itu tidak segera diatasi, akhirnya jadi polusi, dan terjangkitlah epidemi intellectual deficiency. Lebih berbahaya dari wabar sampar a la La peste Albert Camus. Begawan Dawala bermafhum-senyum.

Memang industri pendidikan telah mampu menciptakan selera intelektual. Sistem mekanismenya memaksa adanya pengolahan produksi yang berkelanjutan. Dan ironisnya, keluar dari sistem itu berarti mempercepat polusi; dan berhenti berarti deficiency mendadak; sedangkan jika terus berlanjut malah menjadi kronis! En vano ni hablar de eso--kata Begawan Dawala dalam bahasa Don Juan.

Dengan pandangan tajam-dalam Begawan Dawala menonton pertunjukan masyarakat. Berbagai upaya untuk meredam polusi dan epidemi tesbut banyak dilakukan, kendatipun hanya sekedar ramai-ramai. Orang-orang formal segera memperluas dan mempertinggi "bangunan industri pendidikannya". Orang-orang non-formal sibuk memasarkan mesin pendidikan yang portable. Di lingkungan informal sendiri sibuk mencari obatnya.

Menurut Begawan Dawala, orang-orang semodel itu telah salah melakukan diagnosa; dan akibatnya telah menyuntikkan obat yang salah. Mala-praktek pendidikan tak terelakkan! Polusi hanya dialirkan ke tempat lain, sedangkan intellectual deficiency hanya diobati dengan intellectual fallacy! Sungguh mengerikan.

Sebagai warga negara Amarta yang baik, Begawan Dawala tidak tinggal diam begitu saja. Dia adalah penonton yang penuntun! Makannya dia segera menemui Kyai Semar.

Di rumahnya yang sederhana, Kyai Semar bangkit dari ketermenungannya. Dia mendekati Gareng dan Bagong.

SEMAR: Le, apa kalian ndak tau ke mana si Petruk pergi?

GARENG: Gak, Mo!

BAGONG: Nah--mangkanya… anak minta sekolah gak dituruti. Petruk kan nekad minggat!

SEMAR: Lho kok nyalahken Romo! Dia orang ndak makan nasehat. Jangan memaksa diri masuk perguruan tinggi, apalagi yang asal berdiri.

BAGONG: Tapi, Mo, kini kan jamannya orang bersekolah. Masya Romo menega nelantarkan para putra ketinggalan jaman. Coba liat Kang Gareng yang nyaris buta huruf, ada KMD--koran masuk desa-- dia cuma dapet ngeliat gambarnya thok. Lulus B3B aja baru kemaren sore. Kasihan!

GARENG: Ngece-kere!

BAGONG: Bukannya ngece bin ngina, itu kenyataan! Orang lain sibuk nyalon kades dan nyari kerjaan nyang mbonapide en kualipeot, Kang Gareng kemana-mana bawa cangkul--kerja baaakti mulu!

GARENG: Lha wong aku kan abdi-negeri yang baik.

BAGONG: Iya kalo kerja baktimu sungguhan, wong Kang Gareng nyari makanannya thok.

Tak ampun lagi Gareng melayangkan tinjunya. Bagong mengduh-aduh.

SEMAR: Hehehe… malah ribut-gelut! Kerja bakti itu penting. Kita orang kecil yang hanya bisa nyangkul yang kerja baktilah dengan cangkul. Romo saja yang pak lurah tidak hanya sekedar perentah saja kok. Turun-tangan itu perlu! Apa dumeh pemimpin, kerjanya cuma ita-itu melulu! Ya--ndak!

GARENG: Nah! Mangkanya--tul, Mo!

SEMAR: Sana cari si Petruk!

BAGONG: Turun-tangan, Mooo!

Semar mesem.

GARENG: Wah--gak sanggup, Mo. Gemana nyarinya? Ke gunung takut linglung, ke kota takut sesat!

BAGONG: Kamfungan beratz sih! Saya sih ketimbang nyari Petruk yang gak tentu rimbanya, baikan nyari duit! PTS kan lagi panen besar. Saya bisa turut menuai.

GARENG: Gak bakal becus! Itu kan musim panennya para cendekiawan. Kamu es-em-a saja gak tamat-tamat.

BAGONG: Keliru! Yang punya panen emang cendekiawan, yang dipanen saku mahasiswa, yang kelabakan kena ani-ani ya orang tua! Dan yang menggali pondasi untuk kampus mewah tapi miring itu, ya, kita-kita ini.

GARENG: Weee udah banyak mesin. Mampu bersaing dengan mesin?

BAGONG: Apa boleh buat manusia produk abad teknologi harus mampu bersaing dengan mesin. Teknologi tidak hanya menciptakan robot, namun juga memperobot manusia. Semangkin menjadi robot, manusia semangkin terpakei dalem dunia teknologi. Daripada tangan-kosong otak-kopong! Ya--ndak?

Dalampada itu Begawan Dawala memasuki ambang pintu.

DAWALA: Sampurasun.

SEMAR: Rampes! O, Ki Dawala, silaken masuk.

DAWALA: Terima kasih, Kyai. Begini, Kyai. Saya turut prihatin melihat gejala baru yang menimpa masyarakat kita. Setelah masyarakat tebebas-lepas dari penyakit tiga buta; kini timbul polusi pelajar dan wabah intellectual deficiency. Menghadapi kondisi yang demikian adanya, apa yang seharusnya diperbuat, Kyai?

Kyai Semar terkejut-kalut. Menghadapi masalah semodel itu, dia tak dapat berbuat lain kecuali kembali kepada jati-dirinya.

SEMAR: Itu memang risiko. Kita tak bisa nyalahken siapa-siapa. Industri pendidikan terus berjalan tanpa dapat dihentikan. Satu-satunya jalan untuk menyelamatkan industri itu hanyalah bagaimana cara mengemudikannya. Akan dikendalikan ke mana industri pendidikan kita?

DAWALA: Justru itu yang mencemaskan, Kyai. Tripusat pendidikan goncang karena tak seimbang di sana-sini. Prof Dr Arjuna, Mendiknas Amarta, kewalahan mengatasi industri pendidikan formalnya. Gedung industri itu memang setinggi langit, tapi mutu hanya setinggi tumit; canggih di menara-gading, tapi loyo di lapangan; dan kesenjangan pun kian menjurang. Produk industri pendidikan makin terasing dari selera pasar. Biaya produksi lebih besar daripada harga jual produk-produknya, yang tak jarang sia-sia. Pada akhirnya industri itu sangat konsumtif terhadap bahan baku hanya untuk membuat kesia-siaan!

Gareng dan Bagong diam tak faham.

SEMAR: Lantas bagaimana maksud Ki Begawan?

DAWALA: Perlu diadakat deformasi!

Kyai Semar tercengang. Begawan yang satu ini memang multi-radikal!

SEMAR: Saya mafhum--Ki Begawan tidak mung waton omong, namun jangan menentang sistem!

DAWALA: Deformasi bukan menentang sistem. Deformasi adalah paradigma baru. Sudah saatnya Amarta mendirikan pendidikan massa. Dinamika sosial telah menampilkan masyarakat massa yang kian memperkokoh budaya-massa. Dalam kondisi demikian akan kian pesat tumbuh-kembangnya informasi-massa. Dalam pendidikan massa, peranan informasi-massa sangat mutlak sebagai mahaguru-massa.

GARENG (berbisik): Kamu ngerti, Gong?

BAGONG: Tidak!

SEMAR: Apa itu mumkin secara operasional?

DAWALA: Tentu! Tinggal menunggu tampilnya mahaguru-massa, yang mendidik massa dengan kecanggihan informasi-massa. Untuk itu media-massa pun tak akan lepas dari deformasi! Semakin kultural edukatif ia, semakin terpercaya untuk menjadi lidah mahaguru-massa. Suatu saat deformasi informasi akan mengubah dunia!

BAGONG: Semodel revolusi ya?

DAWALA: Deformasi bukan revolusi! Revolusi model apapun hanya menyajikan kepalsuan yang menipu. Revolution is just a mere culture of human-pigs! Revolusi hanyalah omong-kosong!

"O!"

SEMAR: Emh!--Lantas bagaimana ubarampe penyelenggaraan pendidikan-massa itu?

DAWALA: Pertama-tama, mengadakan deformasi informasi-massa dengan membentuk BSIM--badan sensor informasi-massa. Hitam-putihnya pendidikan-massa tergantung pada kecanggihan BSIM. Kemudian, perlu membentuk BPIM--badan pemandu informasi-massa. Pada badan inilah lalu-lintas informasi diatur mekanismenya; sehingga haluan pendidikan-massa dapat terarahkan sesuai tujuan. Nah!--hanya dengan pendidikan-massa semodel inilah polusi pelajar dengan segala eksesnya, dan penyakit intellectual deficiency dapat teratasi. Di samping itu, ia sangat menentukan eksistensi budaya-massa di masa depan.

SEMAR: Ya tergantung bagaimana praksisnya. Bukankah praktek tidak sesederhana teori? Sering kali "teori agung" berubah menjadi "keji" pada prakteknya. Sejarah telah banyak mencatat kejadian semodel itu. Dan tentunya Ki Begawan sendiri mafhum akan hal itu. Bagaimana dunia dibakar oleh Orang Konyol Uber Alles, puluhan juta manusia dibantai demi permainan human-pig, dan manusia pelan namun pasti dihadapkan pada The World Lost.

DAWALA: Benar, Kyai. Deformasi inilah yang mempunyai kekuatan maha-dahsyat untuk mencapai The World Regain. Pendidikan-massa akan membuktikan bahwa ilmu tidak terletak dalam kemewah-megahan gedung yang bermenara-gading, namun terletak pada kekuasaan informasi! Itulah sebabnya pendidikan-massa sangat mengedepankan deformasi informasi. Tanpa deformasi informasi, pendidikan tidak eksis!

Bagong bingung-linglung. Gareng ngorok.

SEMAR: Saya setuju! Pendidikan-massa lebih berorientasi pada kepentingan umum; bukan untuk membentuk sikap intelektual yang sok elit. Sungguh suatu cita-mulia! Semoga kelak akan lahir cendekiawan-massa. Dan mau tak mau, elit-intelektual akan tergusur bersama zaman. Hal ini akan terjadi dengan sendirinya; bukan karena paksaan seperti tergusurnya kaum marginal di daerah slums. Pelajar marginal pun tak perlu jadi polusi. Bahkan, Ekalaya, Socrates, Ivan Illich, dan yang se-archetype dengannya go ahead!

DAWALA: Benar, Kyai. Sokalima sebagai kota megapolitan pendidikan tak becus apa-apa! Apa artinya intelektual jika hanya sekedar silent intellectuals? Untuk apa memperlangit menara-gading yang makin miring? Tiadalah punya arti, intelektual yang hanya eksis bagi dirinya sendiri! Intelektual an sich hanyalah tai kucing! All we need now are intellectual being-for-others: mass-intellectuals.

Kyai Semar tersenyum mafhum. Keberadaan Begawan Dawala di desanya bagai purnama di malam buta. Kyai Semar, sebagai orang bawah yang terpercaya di Amarta, segera melaporkan kehendak Begawan Dawala kepada Mendiknas Amarta--Prof Dr Arjuna. Mulanya, pendidikan-massa dianggap sebagai sistem pendidikan yang non-sense! Namun Prof Dr Nakula, Menpen Amarta, beranggapan lain. Pendidikan-massa adalah sistem pendidikan yang canggih, yang di dalamnya, penerangan menjadi lebih eksis. Menurut Menpen Nakula, pendidikan-massa mampu juga menyembuhkan budaya squealer dalam penerangan. Demi kepentingan ini, Menpen Nakula bersedia menerima pendidikan-massa. Bahkan meskipun Prof Dr Arjuna tetap tidak setuju karena terlalu fanatik dengan sistem pendidikan versi Sokalima, Prof Dr Nakula akan memasukkan pendidikan-massa ke dalam departemennya. Akhirnya, setelah faham benar Prof Dr Arjuna pun setuju-mantap.

Terberitakanlah pendidikan-massa berdiri di negara Amarta. Akibatnya astaga-luar-biasa! Rakyat Amarta jadi jauh lebih pintar dan terpelajar dibanding dengan negara manapun. Negara Astina yang bangga memiliki kota megapolitan pendidikan Sokalima menjadi terbelakang bukan karena kebodohan, namun karena serba ketinggalan dalam mengikuti perkembangan pendidikan-masa di Amarta.

Ternyata BSIM dapat menjadi katup tanas negara Amarta. BSIM memperkokoh kekuatan hankam dan Jendral Bima, Menhankam Amarta, turut mengalokasikan dana persenjataanya buat dana informasi demi pendidikan-massa. Di lain segi. BPIM mampu membuat informasi-massa menjadi komoditas ekspor dalam lalu-lintas informasi-massa internasional. Menristek Amarta, Prof Dr Ir Sadewa terkagum-kagum melihat kecanggihan teknologi informasi BPIM yang bukan hanya mampu mendeteksi informasi dari dan ke seluruh penjuru dunia, namun juga seluruh penjuru semesta. Pangab Jendral Gatotkaca gembira terhadap keberadaan BPIM, yang ternyata memiliki kehebatan spyforce yang jauh lebih canggih daripada agen-rahasia mana pun. Amarta tidak perlu lagi menyelundupkan James Bond-James Bond-nya yang sok nyewek melulu dalam operasi-operasinya.

Begawan Dawala tersenyum bijak. Dia tegas-tandas menolak ketika rektor Universitas Sokalima Prof Dr Durna mengundangnya untuk memberi gelar Doctor Honoris Causa buat Begawan Dawala. Sikap itu dianggap penghinaan besar buat Astina. Lebih-lebih ketika First Lady Astina, Ny. Banowati PhD, mendesak Presiden Duryudana untuk melakukan perestroika total nagi Negara "Tirai" Astina. Karena tidak digubris, Banowati yang doktor filsafat itu melarikan diri dan menghadap Begawan Dawala. Menimba ilmu.

Ketika Banowati mempertanyakan apakah Begawan Dawala itu ada, dengan tenang Begawan Dawala berkata, "I deform, therefore I exist!"














Ki Harsono Siswocarito
Semarang, 3 November 1988


:: Lakonet dalam edisi khusus Bahasa Indonesia juga dimuat di http://lakonetindonesia.blogspot.com

Selengkapnya....
 
Creative Commons License
eXTReMe Tracker